IHSG Ditutup 1%, 5 Saham Bisa Jadi Pilihan Hari Ini

, CNBC Indonesia
Jumat, 16/10/2026 08:56 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10). Sejumlah saham menjadi penggerak indeks, dengan AMMN naik 1,39%, BMRI menguat 0,51%, dan BBRI naik 0,32%. Sebaliknya, BREN turun 6,03%, DSSA melemah 6,15%, dan BBCA terkoreksi 0,82%.

Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp520,03 miliar di pasar reguler dan Rp567,96 miliar di seluruh pasar. Dari sisi sektoral, seluruh 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Consumer Cyclical mencatat penurunan terdalam sebesar 3,20%.

Di bursa Amerika Serikat (AS), sejumlah indeks utama ditutup menguat. Dow Jones naik 1,08% ke level 52.177, S&P 500 menguat 0,30% ke level 7.744, sedangkan Nasdaq bergerak relatif datar dengan kenaikan 0,08% ke level 26.713.


Sementara itu, MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Wacana tersebut muncul di tengah perhatian terhadap transparansi dan integritas pasar modal Indonesia dan berpotensi memengaruhi aliran dana asing. Secara year to date (YTD), investor asing tercatat membukukan net sell sebesar Rp85,42 triliun. 

Indeks MSCI Indonesia melemah 0,28%, sedangkan ETF EIDO bergerak relatif datar dengan kenaikan 0,09%.

Dalam hal ini, MSCI membuka proses konsultasi terkait usulan penurunan klasifikasi indeks Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Konsultasi dengan pelaku pasar akan berlangsung hingga 30 April 2027, sementara keputusan final dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.

Usulan tersebut berkaitan dengan penilaian pelaku pasar terhadap sejumlah aspek investabilitas pasar saham Indonesia, termasuk transparansi struktur kepemilikan dan dugaan perdagangan terkoordinasi. Hal ini tetap menjadi perhatian meskipun otoritas pasar modal telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi.

MSCI menyatakan proses tersebut akan dilanjutkan apabila belum terdapat bukti perbaikan tata kelola pasar yang dinilai material. MSCI juga mempertahankan pembekuan terhadap perubahan indeks saham Indonesia.

Perubahan klasifikasi menjadi Standalone Market berpotensi berdampak terhadap dana asing yang menggunakan indeks Emerging Market sebagai acuan investasi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Di tengah perhatian terhadap pasar modal Indonesia, Chandra Asri Pacific (TPIA) telah menyelesaikan transaksi investasi strategis bersama Danantara Investment Management (DIM) dan Indonesia Investment Authority (INA) untuk pengembangan proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten. Dalam proyek tersebut, TPIA berperan sebagai penggerak utama.

Fasilitas CA-EDC dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 400 KTA soda kaustik dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC). Hingga September 2026, progres konstruksi proyek telah mencapai sekitar 80% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.

Kemitraan tersebut menggabungkan dukungan pendanaan jangka panjang dari DIM dan INA dengan pengalaman industri Chandra Asri Group. Proyek ini sejalan dengan agenda hilirisasi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, menghemat devisa, serta memperkuat pasokan bahan baku bagi industri hilir.

Salah satu penggunaannya berkaitan dengan rantai industri bauksit dan alumina, yang membutuhkan soda kaustik dalam proses produksinya. Selain itu, proyek CA-EDC diproyeksikan menciptakan sekitar 3.000 lapangan kerja selama tahap konstruksi dan sekitar 250 posisi permanen ketika fasilitas mulai beroperasi.

Selanjutnya, ada Petrosea (PTRO) yang berencana melaksanakan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 170 juta saham baru dengan nilai nominal Rp5 per saham.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,69% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Sementara itu, harga pelaksanaan rights issue masih belum ditetapkan.

Dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung proyek-proyek rekayasa dan konstruksi yang menjadi kegiatan usaha utama PTRO.

Aksi tersebut juga ditujukan untuk memperkuat ekuitas dan struktur permodalan perseroan dalam mendukung pertumbuhan pendapatan. Bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya, potensi dilusi maksimal diperkirakan mencapai 1,66%.

Rencana rights issue PTRO masih menunggu persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 23 November 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 


(ayh/ayh)