IHSG Ditutup Anjlok 1,33% ke 5.863

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 16:08 WIB
Foto: Ilustrasi IHSG (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, di zona merah. Indeks berada di level 5.863,78, turun 79,24 poin atau 1,33%.

IHSG membuka perdagangan di 5.917,13, lebih rendah dari posisi penutupan hari sebelumnya. Level tertinggi hari ini tercatat di 5.917,70, nyaris sama dengan harga pembukaan, sehingga indeks tidak sempat bergerak naik sejak awal sesi. Tekanan jual kemudian menyeret indeks ke level terendah di 5.804,21.

Indeks langsung turun tajam sejak pembukaan, lalu sempat bertahan di kisaran 5.890-5.900 sebelum melemah lagi menjelang pukul 10.00 WIB. Penurunan terdalam terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, ketika IHSG menyentuh area 5.800-an. Setelah itu indeks bergerak mendatar di kisaran 5.805-5.850 sepanjang siang hingga sore. Menjelang akhir perdagangan, IHSG berhasil memangkas sebagian pelemahan dan naik ke 5.863,78, atau sekitar 59,6 poin di atas titik terendah harian.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 306,62 juta lot dengan nilai transaksi Rp10.250,65 miliar atau sekitar Rp10,25 triliun. 

Mengutip IDX, pelemahan IHSG disebabkan oleh sebanyak 592 saham melemah, 252 saham tak bergerak, dan hanya 119 saham yang menguat.


Mengutip data Refinitiv, sektor pemberat IHSG sepanjang hari ini berasal dari sektor infrastruktur yang anjlok 4,6%, disusul oleh sektor energi yang turun sebesar 2,7%, dan sektor industri yang turun 2,4%.

Saham-saham pemberat IHSG hari ini terbebani oleh PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), dan PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. United Tractors Tbk. (UNTR), dan PT. Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD).

Hari ini sejumlah agenda dan data ekonomi juga masih membayangi pasar keuangan Indonesia, termasuk pidato Chairman The Fed Kevin Warsh di pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand.


Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

1. Perkembangan Perang: Houthi Ancam Serang Bandara dan Fasilitas Minyak Arab Saudi

Kelompok Houthi di Yaman mengancam melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi. Ancaman ini muncul sehari setelah serangan yang dilaporkan merusak kompleks perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco di Dhahran.

Houthi menyebut fasilitas tersebut sebagai target sah dan mengklaim serangan sebagai balasan atas gempuran Arab Saudi di Yaman. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat rudal balistik yang mengarah ke Riyadh pada Rabu.

Eskalasi konflik ini mengancam ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi dan mengurangi ketergantungan pada minyak. Di Yaman, meningkatnya pertempuran juga memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat penyaluran bantuan.

2. Inflasi AS Memanas, Dolar Mengganas

AS mengumumkan data inflasi September Rabu, kemarin.

Inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, naik dari 3,4% pada dua bulan sebelumnya. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar 3,6%, dipicu lonjakan harga energi.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), harga bensin melonjak 34,2% secara tahunan, sementara harga minyak pemanas melesat 74,2%. Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik atau inflasi 0,6%, menjadi kenaikan terbesar sejak April 2026. Harga bensin melonjak 9,1% dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK bulanan.

Tekanan juga terlihat pada inflasi inti (core CPI), yang naik menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,4% pada Agustus. Secara bulanan, inflasi inti meningkat 0,3%, melampaui ekspektasi sebesar 0,2%.

Menyusul tingginya inflasi, indeks dolar ikut terbang. Indeks dolar pada perdagangan Rabu menyentuh 102,555. Level indeks masih berada di kisaran tertingginya sejak April2 025 atau 1,5 tahun.

Lonjakan indeks dolar ini berpotensi membuat rupiah melemah karena adanya kemungkinan outflow dari Emerging Market.

3. Surplus Dagang China Tembus US$133 Miliar, Ekspor Melonjak 36%

China mengumumkan data inflasi konsumen dan produsen hingga neraca dagang September Rabu, kemarin. Surplus perdagangan China melonjak menjadi US$133,53 miliar pada September 2026, naik tajam dari US$88,72 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui ekspektasi pasar sebesar US$118,1 miliar dan menjadi surplus terbesar kedua sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Administrasi Umum Kepabeanan China, ekspor melonjak 36,3% secara tahunan (yoy) menjadi US$447,18 miliar.

Ekspor mobil juga meningkat tajam. Pengiriman ke Amerika Serikat (AS) melonjak 39,6%, sementara ekspor ke Uni Eropa tumbuh 25,3% dan ke negara-negara ASEAN melesat 52,3%.

Di sisi lain, impor China turut melesat 31% secara tahunan menjadi rekor US$313,66 miliar, melampaui perkiraan pasar sebesar 24,5%.

Secara kumulatif, surplus perdagangan China mencapai US$938,11 miliar sepanjang Januari-September 2026. Angka ini membuka peluang surplus tahunan kembali melampaui rekor tahun lalu sebesar US$1,2 triliun.

Membaiknya neraca dagang China terutama kenaikan impor menjadi kabar baik bagi Indonesia. China adalah mitra dagang utama Indonesia, kenaikan impor diharapkan bisa meningkatkan permintaan barang dari Indonesia.

4. Inflasi China

Inflasi China naik menjadi 0,9% secara tahunan (yoy) pada September 2026, dari 0,8% pada Agustus. Kenaikan ini didorong oleh biaya transportasi dan harga energi, meski masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 1%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) China naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM) pada September 2026. Sejak 1996, inflasi bulanan China rata-rata sebesar 0,14%, dengan rekor tertinggi 2,6% pada Februari 2008 dan terendah minus 1,8% pada Juni 1998.

Di sisi lain, inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) melonjak menjadi 5%, tertinggi sejak Juni 2022, dari 3,8% pada Agustus. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi mendorong tekanan harga di sektor industri.

5. Diskusi Chairman The Fed-IMF

Pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand menghadirkan agenda penting pada hari ini, Kamis (15/10/2026)\yakni diskusi antara Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, dan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam sesi Fireside Chat di Bangkok, Thailand.

Agenda utama yang patut dicermati adalah diskusi antara Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh dan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva di Bangkok, Thailand, pada pukul 10.30 WIB. Diskusi ini berpotensi memberikan petunjuk mengenai prospek ekonomi global, tekanan inflasi, arah suku bunga AS, serta risiko utang dunia.

Pernyataan Warsh menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed, pergerakan dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan harga emas. Bagi Indonesia, sinyal kebijakan The Fed yang lebih ketat berpotensi menekan rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, sedangkan sinyal yang lebih lunak dapat mendukung aset berisiko.

6. Inflasi Produsen AS

Pada hari ini, Kamis (15/10.2026), AS akan mengumumkan data indeks harga produsen (PPI) untuk September 2026. Sebagai catatan, inflasi PPI naik 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga barang, termasuk harga solar.

Secara tahunan, inflasi produsen meningkat menjadi 5,4% di Agustus 2026 dari 4,8% pada Juli, terutama didorong kenaikan biaya transportasi.


(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: IHSG Jeblok ke Bawah 6.000, Sentimen Ini Jadi Penekan!