OJK Ingatkan Investor Bahaya Penipuan Saham Pakai Deepfake dan AI

Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
Rabu, 14/10/2026 18:45 WIB
Foto: Deepfake. (Dok. CNBC.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penipuan investasi di pasar modal yang memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), termasuk teknologi deepfake. Teknologi ini dapat digunakan untuk membuat video maupun suara palsu yang menyerupai tokoh publik atau profesional keuangan untuk mempromosikan investasi tertentu.

Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK Edi Broto Suwarno mengatakan, perkembangan teknologi digital memang memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi dan layanan investasi. Namun, teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.

"Saat ini mungkin teknologi deepfake ya, ini dapat digunakan untuk membuat video atau suara yang menyerupai tokoh publik maupun profesional keuangan seolah-olah sedang merekomendasikan investasi tertentu," ujar Edi dalam sambutannya di Ring The Bell For Financial Literacy 2026 di Gedung BEI, Rabu (14/10/2026).

Selain memanfaatkan teknologi deepfake, Edi mengingatkan adanya pihak yang menggunakan identitas lembaga keuangan resmi untuk menawarkan investasi dengan janji keuntungan tinggi tanpa risiko. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih kritis dalam menerima informasi investasi, terutama yang beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan.


Menurut Edi, teknologi yang terlihat canggih tidak serta-merta menjamin kebenaran informasi yang disampaikan. Masyarakat perlu memastikan legalitas pihak yang menawarkan investasi, memahami produk beserta risikonya, dan tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan yang tidak masuk akal.

"Jadi legal and logic ya, legal dan logis," katanya.

Edi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyerahkan data pribadi, kata sandi, PIN, maupun kode one-time password (OTP) kepada pihak lain. Perlindungan data tersebut menjadi tanggung jawab setiap individu untuk mencegah penyalahgunaan oleh pelaku penipuan.

Dia mengajak masyarakat membiasakan tiga langkah sederhana sebelum mengambil keputusan investasi, yakni memeriksa informasi sebelum mempercayainya, memahami produk sebelum berinvestasi, serta memastikan kebenaran dan tujuan transaksi sebelum mentransfer uang.

Di samping kewaspadaan terhadap penipuan, Edi menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai investasi. Investor perlu memahami produk yang dibeli, potensi keuntungan, risiko, serta kesesuaiannya dengan tujuan dan kemampuan keuangan masing-masing.

Dalam investasi saham, misalnya, investor perlu memahami kegiatan usaha, kondisi keuangan, dan prospek perusahaan yang sahamnya dibeli. Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada popularitas suatu saham di media sosial, rekomendasi orang lain, atau ketakutan tertinggal tren investasi yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

"Jangan membeli produk investasi yang tidak kita pahami. Menjadi investor cerdas tidak berarti harus menjadi ahli keuangan, namun setiap investor perlu memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengambil keputusan secara independen atau mandiri," ujar Edi.

Dia menegaskan bahwa investasi bukanlah perlombaan untuk menjadi kaya dalam waktu singkat, melainkan proses membangun kesejahteraan secara terencana dan berkelanjutan.

Selain menjadi investor yang cerdas dan waspada, Edi juga mengingatkan pentingnya membangun ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar modal. Harga saham dapat naik dan turun mengikuti perubahan kondisi ekonomi maupun sentimen pasar sehingga investor perlu mampu mengelola emosi dan menghadapi risiko.

Investor, lanjutnya, tidak seharusnya terburu-buru membeli saham hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan. Sebaliknya, investor juga perlu menghindari keputusan panik ketika pasar mengalami penurunan.

Menurut Edi, investor yang tangguh bukanlah mereka yang tidak pernah mengalami kerugian, melainkan investor yang mampu memahami risiko, menjaga disiplin, dan mengambil keputusan secara rasional.

Ketahanan tersebut dapat dibangun dengan menetapkan tujuan investasi yang jelas, menyiapkan dana darurat, melakukan diversifikasi portofolio, serta berinvestasi sesuai kemampuan keuangan dan profil risiko.

"Yang perlu kita bangun bukan sekadar keberanian untuk berinvestasi, ya, tetapi juga kesiapan menghadapi risiko yang menyertai investasi tersebut," tutup Edi.



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sentimen MSCI -Houthi, IHSG Anjlok & Harga Minyak USD 100/barel