MARKET DATA

Jelang Merger Asuransi BUMN, IFG dan Danantara Soroti Tata Kelola

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
13 October 2026 18:55
Gedung IFG. (Dok. IFG)
Foto: Gedung IFG. (Dok. IFG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan konsolidasi industri asuransi BUMN akan rampung akhir tahun ini. Jelang penggabungan belasan asuransi BUMN, Senior Director Legal PT Danantara Asset Management Inosentius Samsul menekankan pentingnya membangun instrumen yang dapat menunjukkan bahwa setiap aksi korporasi telah melalui proses pengambilan keputusan yang memadai.

Menurutnya, dalam tata kelola korporasi, penerapan Business Judgment Rule (BJR) dalam proses pengambilan keputusan Direksi dan pengawasan Dewan Komisaris, perlu didukung dengan aspek lain. Antara lain oleh SOP, proses GCG, kajian bisnis dan hukum, pengelolaan konflik kepentingan, mekanisme check and balance, serta dokumentasi yang lengkap.

"Business Judgment Rule tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah prinsip hukum, tetapi harus tercermin dalam proses. Kajian yang memadai, kepatuhan terhadap SOP, dokumentasi keputusan, serta mekanisme pengawasan menjadi penting untuk menunjukkan bahwa suatu keputusan telah diambil secara hati-hati, dengan itikad baik, dan untuk kepentingan terbaik perusahaan," ujar Inosentius dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

IFG, selaku perusahaan asuransi pelat merah mendorong transformasi bisnis dalam memperkuat ketahanan finanial dan menciptakan nilai keberlanjutan melalui praktik bisnis yang prudent, akuntabel, dan sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Direktur SDM dan Hukum IFG Rizal Ariansyah mengatakan, transformasi bisnis membutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan sekaligus disiplin dalam menjalankan tata kelola dan manajemen risiko.

"Transformasi bisnis harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang semakin kuat. Setiap keputusan bisnis perlu memiliki dasar yang rasional, didukung informasi dan kajian yang memadai, serta mempertimbangkan risiko secara menyeluruh," kata Rizal.


Menurutnya, fondasi tersebut penting agar perusahaan memiliki ruang untuk bertumbuh dan berinovasi, namun tetap akuntabel dan mampu menciptakan nilai secara berkelanjutan.

Ia menyebut, IFG terus melakukan penyelarasan bisnis (business alignment) melalui optimalisasi sumber daya, penguatan kapasitas usaha, serta peningkatan efektivitas dan efisiensi operasional, termasuk melalui berbagai langkah konsolidasi dan streamlining di dalam ekosistem.
Sebelumnya, Kepala BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, konsolidasi perusahaan auransi BUMN akan dikebut pada akhir tahun ini."Merger asuransi juga sedang terjadi dan akhir tahun ini sudah harus terjadi," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Nantinya, Danantara akan melakukan merger 15 asuransi pelat merah menjadi tiga. Ketiganya akan memiliki spesialisasi masing-masing.

"Dari life insurance kita akan go, kemudian general insurance juga, dan yang terakhir credit insurance. Ini akan kita harapkan akhir tahun sudah selesai," sebutnya.

Dony menekankan, konsolidasi asuransi akan dilakukan ke seluruh entitas BUMN, termasuk asuransi syariah. "Yang syariah juga sama, kita akan lakukan juga merger jadi ada asuransi yang syariahnya juga," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, IFG (Indonesia Financial Group) Holding membawahi beberapa perusahaan asuransi, penjaminan, dan investasi. Adapun beberapa anak usaha IFG Holding anatra lain, Jasa Raharja, Jamkrindo, dan Askrindo. Selain itu, IFG juga membawahi Jasindo. Dari bagian asuransi jiwa dan kesehatan, IFG memiliki anak usaha IFG Life.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]
Next Article AZKO Perkuat Bisnis Berkelanjutan lewat Sustainability Ambitions 2030


Most Popular
Features