MARKET DATA

Prancis Pimpin Suntikan Rp10 T ke Pemilik Tambang Nikel Raksasa RI

Redaksi,  CNBC Indonesia
13 October 2026 17:20
Proyek Huafei HPAL Indonesia Weda Bay Industrial Park, Pulau Halmahera, Maluku Utara, Indonesia. (Gallety Huayou)
Foto: Proyek Huafei HPAL Indonesia Weda Bay Industrial Park, Pulau Halmahera, Maluku Utara, Indonesia. (Gallety Huayou)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Prancis bersiap memperbesar kepemilikannya di Eramet, perusahaan tambang asal Prancis yang memiliki operasi nikel besar di Indonesia. Langkah ini akan menjadikan negara sebagai pemegang saham terbesar Eramet, sekaligus upaya menyelamatkan keuangan perusahaan yang tengah tertekan.

Dikutip dari Financial Times, Selasa (13/10/2026), pemerintah Prancis yang saat ini menggenggam 27% saham Eramet akan menguasai hingga 49% setelah rencana penambahan modal senilai 500 juta euro atau setara Rp10 triliun (asumsi kurs Rp20.000/euro) rampung pada kuartal IV tahun ini. Rencana tersebut diumumkan pada Senin (12/10/2026).

Dalam aksi korporasi itu, Paris akan menyerap seluruh jatah saham barunya sekaligus membeli hak (rights) milik keluarga Duval, pemegang 37% saham yang selama ini menjadi pemegang saham mayoritas Eramet. Kesepakatan ini dicapai antara dua investor utama perusahaan, dan secara otomatis akan mendilusi porsi keluarga Duval.

Sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut tawaran negara mengalahkan proposal investor eksternal lain, salah satunya karena merupakan jalur tercepat untuk memperoleh modal baru. Setidaknya satu grup industri logam dan pertambangan sempat masuk bursa peminat. Orion Critical Mineral Consortium, dana investasi yang didukung Amerika Serikat dan dana kekayaan negara Abu Dhabi, juga dilaporkan sempat tertarik. Namun, pendekatan mereka dinilai kurang cocok.

Kementerian Ekonomi Prancis menegaskan suntikan modal ini mutlak diperlukan untuk memulihkan keseimbangan keuangan Eramet. Paris juga berkomitmen memperkuat pasokan bahan baku kritis yang berdaulat bagi industri nasional dan Eropa.

"Eramet adalah aset strategis bagi Prancis dan Eropa," ujar Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure.

Terpukul Pemangkasan Kuota Nikel di Indonesia

Eramet merupakan salah satu pemain nikel terbesar di Indonesia melalui tambang Weda Bay di Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang digarap bersama raksasa nikel asal China, Tsingshan. Selain itu, Eramet memiliki konsesi historis di Kaledonia Baru, wilayah teritori Prancis, serta memproduksi litium, mangan, dan pasir mineral di Argentina, Gabon, Senegal, dan Amerika Serikat.

Kendati asetnya tersebar di komoditas strategis, kinerja Eramet terpukul serangkaian tekanan. Di antaranya pemangkasan besar kuota penambangan nikel di Indonesia serta merosotnya harga sejumlah mineral. Perusahaan mencatatkan kerugian pada 2025 dan mulai melepas sejumlah aset.

Eramet pertama kali menguraikan rencana penambahan modal 500 juta euro pada Februari lalu untuk menstabilkan kondisi keuangan yang disebutnya memburuk.

Perusahaan juga sempat diguncang krisis tata kelola awal tahun ini. Dewan direksi memecat CEO Paulo Castellari yang baru delapan bulan menjabat, dengan alasan perbedaan cara kerja. Beberapa hari kemudian, Direktur Keuangan Abel Martins-Alexandre turut dicopot. Chair sekaligus mantan CEO Christel Bories kembali ditunjuk sementara memimpin perusahaan sejak Februari.

Eramet menyatakan investor lain masih bisa masuk di tahap selanjutnya. Namun, sumber yang mengetahui pembicaraan menilai peluang itu kecil dalam waktu dekat setelah negara menambah kepemilikannya.

Langkah Prancis ini terjadi di tengah perlombaan negara-negara mengamankan pasokan mineral kritis dan menandingi dominasi China dalam penambangan dan pengolahan komoditas tersebut.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Habis Akuisisi, Emiten RI Ini Kantongi Kontrak Nikel US$14 Juta


Most Popular
Features