MARKET DATA

Rupiah Balik Melemah, Dolar AS Ditutup Naik ke Rp17.895

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 October 2026 15:10
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kehilangan tenaga pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Sempat menguat pada pagi hari, mata uang Garuda akhirnya berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp17.895/US$ pada perdagangan Senin (12/10/2026).

Pergerakan tersebut membalikkan penguatan pada pembukaan perdagangan, ketika rupiah terapresiasi 0,08% ke level Rp17.860/US$. Sepanjang hari ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.860-Rp17.910/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau stabil di posisi 102,213.

Rupiah kembali tertekan ketika indeks dolar AS bertahan di sekitar level tertingginya dalam 18 bulan. Posisi DXY yang masih berada di atas 102 menunjukkan permintaan terhadap aset berdenominasi dolar tetap kuat.

Dolar AS memperoleh dukungan dari meningkatnya kehati-hatian investor menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta serangan terhadap dua kapal pada akhir pekan kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi.

Pelaku pasar juga menantikan rilis inflasi konsumen AS pada Rabu pekan ini. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi utama terakhir sebelum bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menggelar rapat FOMC pada akhir Oktober.

Saat ini, pasar memperhitungkan peluang sebesar 81% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Namun, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat kembali memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan dan memperkuat dolar AS.

Menghadapi tekanan global tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya mengambil langkah intervensi yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.

"Kalau memang perlu kita intervensi lebih bold, ya kita akan lakukan intervensi lebih bold, karena sekarang kalau kami lihat, memang sumber utama dari gejolak ini emang lebih di global banyaknya," kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam program Central Banking CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/10/2026).

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.910 Pagi Ini


Most Popular
Features