Dulu Dicap Investasi Ceroboh SBF, Aset FTX Kini Kecipratan Pesta AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis penambangan bitcoin yang sempat dianggap tak bernyawa usai runtuhnya kerajaan kripto Sam Bankman-Fried (SBF) kini dihidupkan kembali. Bedanya, aset tersebut tak lagi dipakai untuk menambang bitcoin, melainkan untuk melayani lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Senin (12/10/2026), bisnis yang sebelumnya dikenal sebagai Genesis Digital Assets itu bertahun-tahun tersandera proses kepailitan FTX. Pada musim panas tahun ini, perusahaan tersebut diambil alih oleh SWI Group, perusahaan infrastruktur digital yang tengah gencar membeli pusat data di Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk memasok kebutuhan daya komputasi perusahaan AI.
SWI mengumumkan telah menghimpun dana segar sebesar 800 juta euro atau sekitar US$900 juta untuk meningkatkan dan memperluas pusat datanya. Perusahaan yang tercatat di bursa Amsterdam dan berbadan hukum Singapura ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$6 miliar per Jumat pekan lalu. Saham SWI (SWICH) terpantau melemah 3,08%.
Salah satu pendiri sekaligus CEO SWI, Max-Hervé George, menegaskan perusahaannya membutuhkan modal untuk menambah kapasitas komputasi. Ia bahkan mengaku sama sekali tidak tertarik dengan bisnis penambangan bitcoin.
Yang diincar George adalah pusat data milik Genesis Digital yang tersebar di Texas, North Carolina, South Carolina, dan Swedia. SWI berencana menawarkan fasilitas tersebut kepada para hyperscaler, yakni penyedia komputasi awan raksasa seperti Amazon Web Services dan Google Cloud yang menjadi tulang punggung ChatGPT dan berbagai layanan AI serupa.
Genesis Digital awalnya berfokus menambang bitcoin di Kazakhstan, sebelum akhirnya menarik diri dari negara Asia Tengah tersebut. George menyebut SWI kini tengah menjual aset terakhirnya di sana, berupa tiga lokasi penambangan bitcoin berskala kecil.
Dari Tambang Kripto ke Pusat Data AI
Penambangan bitcoin dilakukan dengan menjalankan program komputer untuk memecahkan persamaan matematika kompleks guna menghasilkan unit baru mata uang digital tersebut. Awalnya aktivitas ini dilakukan para penggemar lewat komputer pribadi, namun kemudian berkembang menjadi industri besar dengan perusahaan yang mengoperasikan deretan chip Nvidia dalam skala industri.
Belakangan, banyak perusahaan penambang bitcoin beralih ke bisnis AI yang menjanjikan imbal hasil lebih menggiurkan.
George, pengusaha asal Prancis berusia 37 tahun, mengawali kariernya dengan berinvestasi di properti bermasalah sebelum beralih ke bisnis pusat data. Namun, hanya sedikit aset yang pernah ia tangani dengan riwayat serumit Genesis Digital.
Didirikan pada 2017 oleh sekelompok pengusaha asal Jerman dan Kazakhstan, Genesis Digital sempat menjadi salah satu penambang bitcoin terbesar di dunia. SBF mulai masuk pada 2021 dan total menggelontorkan lebih dari US$1 miliar melalui perusahaan perdagangan kriptonya, Alameda Research, yang akhirnya menggenggam 20% saham. Alameda sendiri memiliki keterkaitan erat dengan FTX.
Saat FTX mengajukan kepailitan pada November 2022, Genesis Digital tengah terpukul anjloknya harga bitcoin serta sikap pemerintah Kazakhstan yang memusuhi penambang bitcoin akibat konsumsi listrik yang sangat besar.
Tim pengelola kepailitan FTX bahkan melabeli Genesis Digital sebagai salah satu investasi paling ceroboh SBF dalam gugatan yang dilayangkan tahun lalu. Gugatan itu bertujuan menarik kembali dana US$1,15 miliar yang telah dikucurkan Alameda. Tim kurator menilai aset Genesis Digital di Kazakhstan nyaris tak bernilai, sementara asetnya di AS hanya sebagian kecil dari harga yang dibayar SBF.
Situasi berbalik pada 15 Juni lalu. Di hari yang sama ketika FTX mencabut gugatannya, SWI mengumumkan pembelian saham signifikan di Genesis Digital senilai US$500 juta. Sejak itu, SWI terus menambah kepemilikannya hingga menjadi pemegang saham mayoritas. George memastikan seluruh sengketa hukum dengan FTX maupun pemegang saham lain telah diselesaikan.
Investasi SBF yang Kini Terlihat Cuan
SBF saat ini tengah menjalani hukuman penjara 25 tahun setelah dinyatakan bersalah atas kasus penipuan. Jaksa menuduhnya menyalahgunakan dana nasabah senilai miliaran dolar untuk membiayai aksi belanja besar-besaran.
Namun, kini sejumlah investasinya justru tampak lebih menguntungkan dibandingkan saat FTX ambruk. Contoh paling mencolok adalah investasi US$500 juta di Anthropic pada 2021 yang memberi FTX kepemilikan 7,8% di perusahaan rintisan AI itu, jauh sebelum booming AI melambungkan namanya.
Tim kepailitan FTX menjual seluruh saham Anthropic tersebut seharga US$1,3 miliar pada 2024. Jika mengacu pada valuasi terakhir Anthropic, kepemilikan itu kini ditaksir bernilai sekitar US$75 miliar.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]