Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.860

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 12/10/2026 09:05 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Garuda kembali dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (12/10/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan sebesar 0,08% atau terapresiasi ke posisi Rp17.860/US$.

Penguatan tersebut melanjutkan pergerakan terakhirnya di pekan lalu, Jumat (9/10/2026), ketika rupiah ditutup naik 0,08% di level Rp17.875/US$. Meski demikian, penguatannya saat itu menyusut dibandingkan posisi pembukaan sebesar 0,20% di Rp17.855/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,12% ke posisi 102,130.

Koreksi indeks dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan pada awal perdagangan hari ini. Namun, posisi DXY yang masih bertahan di atas level 102 menunjukkan dolar AS tetap relatif kuat di pasar global.

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya melakukan intervensi lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan langkah tersebut dapat ditempuh apabila tekanan dari pasar global kembali meningkat dan memengaruhi pergerakan nilai tukar di dalam negeri.

"Kalau memang perlu kita intervensi lebih bold, ya kita akan lakukan intervensi lebih bold, karena sekarang kalau kami lihat, memang sumber utama dari gejolak ini emang lebih di global banyaknya," kata Destry dalam program Central Banking CNBC Indonesia, dikutip Jumat (9/10/2026).

Destry menjelaskan ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda masih berpotensi mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap rupiah.

Namun, ia menilai kondisi perekonomian domestik saat ini relatif lebih terkendali. Salah satu penopangnya adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus US$3,3 miliar.

"Di domestik kita relatif udah lebih manageable. Contohnya neraca perdagangan, kita sempat surplus sampai US$3,3 miliar, ini suatu lompatan yang besar, tapi sebenarnya juga sudah di-expect, karena ada kenaikan harga komoditas yang cukup besar, sehingga itu mendorong ekspor-ekspor komoditas kita juga," terang Destry.

BI juga akan terus mencermati pergerakan mata uang negara-negara kawasan dengan karakteristik yang relatif serupa dengan Indonesia, seperti peso Filipina dan baht Thailand.

"Selain itu, akhirnya semua pada lihat satu negara dengan negara lain. Kita akhirnya melihat kondisi mata uang yang lain gimana ya? Misal peso Filipina gimana? Baht Thailand gimana? Jadi paling enggak negara yang kurang lebih karakternya sama dengan kita," ujar Destry.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD