MARKET DATA

Destry Ungkap 'Musuh Besar' Rupiah Bukan dari Dalam Negeri

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
09 October 2026 18:10
Profil Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (CNBC Indonesia/Maikel Jefriando)
Foto: Profil Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. (CNBC Indonesia/Maikel Jefriando)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan pelemahan rupiah bukan karena adanya tekanan di dalam negeri, melainkan adanya tekanan dari luar negeri.

Destry mengatakan ekonomi nasional masih cukup baik, di mana pada kuartal II-2026, ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh 5,29% dan inflasi masih terkendali.

"Faktor yang mempengaruhi rupiah kan banyak ya, enggak semuanya hanya domestik, walaupun di domestik kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita so far oke, sampai kuartal II-2026 masih tumbuh 5,29%. Inflasi, walaupun kemarin di September agak naik sedikit, ada volatile food inflation naik, tapi masih manageable," kata Destry dalam wawancara eksklusif di Central Banking CNBC Indonesia, dikutip Jumat (9/10/2026).

Namun, tekanan global yang membuat rupiah terdepresiasi. Apalagi, adanya fenomena pelarian modal investor asing kembali ke negara asalnya alias capital flight turut menekan rupiah.

"Ada potensi capital flight global, di mana mereka (investor asing) mencari aset-aset yang sekiranya buat mereka itu relatif aman. Dalam hal ini, orang yang megang dolar mungkin dianggap mereka masih relatif aman, jadi kita mulai melihat banyak capital outflow dari negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia," terang Destry.

Hal inilah yang membuat rupiah tertekan karena adanya fenomena capital flight tersebut. Selain rupiah, fenomena ini juga membuat asing melepas kepemilikannya di surat berharga negara (SBN), sehingga instrumen tersebut sempat mencatatkan outflow asing cukup besar.

"Jadi ini juga menyebabkan kenapa juga akhirnya kita sempat mengalami outflow di SBN, termasuk juga di SRBI," ujar Destry.

Adapun, rupiah melemah lebih disebabkan oleh kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Di samping itu, harga minyak naik hingga di atas US$108 per barel karena belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

Pelemahan rupiah juga didorong oleh peningkatan kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir kuartal III-2026. Meski demikian, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (qtd) sebesar 0,67%.

(chd/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Destry Sah Jadi Gubernur BI, Rupiah Bertahan di Rp17.710/US$


Most Popular
Features