70,2% dalam Rupiah, Pemerintah RI Jamin Utang Aman dari Tekanan Dolar
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memastikan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan signifikan memengaruhi total utang yang telah diterbitkan sepanjang tahun ini.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, dari total utang pemerintah per semester I-2026 yang senilai Rp 10.293,69 triliun atau setara 41,26% PDB, 70,2% berdenominasi rupiah.
"Utang dalam rupiah 70,2% dan dalam valas 29,8%, sehingga risiko nilai tukar tetap dapat terjaga," kata Suminto, Jumat (9/10/2026).
Selain itu, dalam hal pemenuhan pembayaran yang jatuh tempo, pemerintah juga masih bisa memanfaatkan pendapatan negara yang berdenominasi valas, seperti pajak dan PNBP atas transaksi ke luar negeri yang turut diterima dalam denominasi dolar.
Secara tahunan, ia menegaskan, komposisi utang juga terus dijaga sesuai risiko portofolio berdasarkan denominasinya. Pada 2025, khusus untuk valas mayoritas memang dalam bentuk dolar AS setara 19,81%. Sisanya yen 2,71%, euro 5,94%, dan lainnnya 0,5%.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah sempat menguat terhadap dolar AS pada hari ini, meski masih bergerak di kisaran atas Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.855/US$ atau menguat 0,20% dibandingkan penutupan Kamis (8/10/2026) di Rp17.890/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,15% ke posisi 101,988.
(arj/arj)