Akhiri Perdagangan Hari Ini, IHSG Anjlok 1,88% ke Level 6.031
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada akhir perdagangan Kamis (8/10/2026). Hingga akhir sesi II, IHSG berada di level 6.031,28, turun 115,44 poin atau 1,88%. Total volume transaksi tercatat 567,04 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp11.256,53 miliar.
Pada awal perdagangan sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka menguat di 6.154,97 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.179,09. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual muncul dan menyeret indeks turun ke area 6.120 sebelum pukul 10.00 WIB. Setelah sempat rebound terbatas ke kisaran 6.130 pada sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG kembali bergerak melemah secara bertahap.
Memasuki sesi kedua, tekanan jual semakin kuat. IHSG jatuh menembus level psikologis 6.100 dan terus turun ke area 6.060 hingga 6.080. Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB, indeks bergerak di kisaran 6.040 hingga 6.060, sebelum akhirnya terperosok ke level terendah harian di 6.031,28 pada akhir periode yang terpantau.
Dengan pola tersebut, rentang pergerakan IHSG hari ini, level tertinggi berada di level 6.179,09 hingga terendah 6.031,28.
Pelemahan IHSG hari ini disebabkan oleh 518 saham melemah, 258 saham tak bergerak, dan hanya 187 saham yang menguat.
Mengutip Refinitiv, penyebab IHSG parkir di zona merah antara lain, sektor infrastruktur yang anjlok 5%, disusul oleh sektor energi yang anjlok 2,7%, dan sektor material dasar yang turun 2,6%.
Adapun saham-saham yang membebani IHSG antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).
Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT. Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT. Astra International Tbk. (ASII), PT. Global Digital Niaga Tbk. (BELI), dan PT. Apollo Global Interactive Tbk. (APOL).
Sentimen pasar pada Kamis (8/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan ketahanan eksternal Indonesia dan arah kebijakan moneter global. Kemarin, cadangan devisa Indonesia tercatat sedikit menurun, meski tingkat kecukupannya tetap melampaui standar internasional serta rilis data uang primer Indonesia.
Hari ini, perhatian beralih ke hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari rapat The Fed yang terbit dini hari tadi, kemudian laporan keyakinan konsumen Indonesia.
Pandangan The Fed yang hawkish, lonjakan indeks dolar dan tingginya imbal hasil US Treasury akan memberi tekanan bagi pasar saham dan rupiah.
Risalah Bank Sentral Eropa dan klaim pengangguran Amerika Serikat akan menjadi bahan penilaian berikutnya terhadap prospek suku bunga, nilai tukar, dan aset berisiko.
Yield Treasury AS turun pada Rabu setelah lelang obligasi tenor 10 tahun senilai hampir US$40 miliar mendapat permintaan kuat. Penurunan ini terjadi setelah yield sebelumnya mencapai level tertinggi yang belum pernah terlihat sejak 2002.
Yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi pasar saham, sempat mencapai 5,365% pada perdagangan Rabu. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak April 2002.
Kenaikan juga terjadi pada obligasi tenor lebih panjang. Yield Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,732%, sebelum kembali turun akibat tingginya permintaan dalam lelang.
Departemen Keuangan AS melelang US$39 miliar obligasi tenor 10 tahun dengan yield 5,300%, menjadi level tertinggi pada abad ini. Namun, permintaan yang kuat kemudian membantu menekan yield ke sekitar 5,27%. Menurut Bloomberg, rasio permintaan mencapai 2,77 kali dari jumlah yang ditawarkan.
Investor tidak langsung, termasuk bank sentral dan investor institusi, menyerap 80,34% dari permintaan. Sementara pembeli langsung menyumbang 17,12%, menunjukkan tingginya minat terhadap surat utang tersebut.
Yield obligasi tenor 30 tahun juga turun ke sekitar 5,65%, sejalan dengan kuatnya permintaan terhadap surat utang pemerintah AS.
Kenaikan yield Treasury menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat meningkatkan tekanan terhadap aset pasar berkembang.
Sementara itu, bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026), seiring kenaikan imbal hasil obligasi yang menekan minat investor terhadap aset ekuitas.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan melemah 0,35%, sementara S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,4%.
(rob/rob)