Danantara Investasi Migas Rp4,5 Triliun di AS, Analis Bilang Gini

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 13:25 WIB
Foto: Dok: Danantara

Jakarta, CNBC Indonesia - Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) dalam keterangan resminya baru saja mengumumkan akuisisi perusahaan migas yang berbasis di AS bernama High Peak Energy Inc senilai USD 250 juta atau setara Rp4,5 triliun (asumsi kurs Rp18.000/US$). Transaksi ini dilakukan melalui penerbitan saham preferen konvertibel dalam beberapa tahap.

Yosua Zisokhi, analis Sinarmas Sekuritas, menilai bahwa aksi korporasi tersebut dapat dilihat dari dua sudut pandang. "Danantara sebagai sovereign wealth fund (SWF) punya kepentingan untuk investasi portofolio maupun investasi ke aset strategis terutama di sektor energi", ujarnya, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, akuisisi minoritas tersebut tetap bernilai strategis. Apalagi di tengah kondisi geopolitik Timur Tengah yang masih 'panas'. "Memang aset-aset migas US banyak dilirik saat konflik Timur Tengah. US bukan hanya negara dengan cadangan minyak yang terbesar tetapi mereka juga punya teknologi. Ini jadi alasan kenapa aset-aset migas di sana diincar banyak pihak secara global", tambahnya.


Menurut informasi yang didapat, High Peak Energy Inc merupakan perusahaan yang berbasis di Texas dan listing di Nasdaq dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar USD1 miliar. High Peak Energy Inc merupakan perusahaan bergerak di bidang akuisisi, pengembangan, eksplorasi, serta eksploitasi minyak dan gas bumi di Permian Basin.

Untuk diketahui, Permian Basin merupakan wilayah penghasil minyak mentah terbesar di Amerika Serikat, yang menyumbang sebesar 48% dari total produksi Amerika Serikat selama 2025, menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat.

Sejak 2007, pertumbuhan produksi di wilayah ini utamanya didorong oleh penerapan teknik pengeboran horizontal dan rekahan hidrolik atau fracking (hydraulic fracturing). Jika kondisi reservoir mendukung, maka kedua teknik ini dapat diterapkan ke lapangan migas tua di darat guna meningkatkan produktivitas sumur dan perolehan migas.

Yosua melihat bahwa investasi yang dilakukan oleh DIM ini juga punya aspek strategis selain akses ke cadangan minyak tetapi juga akses ke teknologi, karena dalam investasi ini ada sisi pertukaran keterampilan lewat pelatihan dan penugasan kerja.

Di sisi lain, Yosua juga menilai skema transaksi lewat penerbitan saham preferen konvertibel juga mempertimbangkan aspek kehati-hatian. Menurutnya saham preferen tidak seperti saham biasa.

"Ada aspek perlindungan dari penurunan nilai investasi tetapi juga membuka akses upside ke depan jangka panjang. Skema seperti ini memang lazim untuk dilakukan ke perusahaan migas yang aktif dalam melakukan eksplorasi maupun eksploitasi" tambahnya.

Dalam siaran pers-nya DIM menyebut bahwa investasi ini selain untuk transfer pengetahuan tetapi juga mendukung pengembangan sektor energi Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan energi dan ekonomi yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Aksi investasi DIM ke perusahaan migas di AS ini juga menambah rentetan nama besar yang juga melakukan aksi serupa seperti Mitsubishi, JAPEX, dan Osaka Gas. Bahkan beberapa lembaga investasi negara seperti GIC, Mubdala dan ADIA juga turut berinvestasi di aset migas AS.

Di saat yang sama, yang menarik perhatian adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengumumkan keterbukaan informasi yang menjelaskan perihal investasi di High Peak Energy Inc. Nilai investasinya mencapai USD200 juta atau setara Rp3,6 triliun dan skema transaksi juga melibatkan penerbitan saham preferen konvertibel.

Yosua melihat bahwa Danantara sebagai SWF lebih melihat ke gambaran besar terutama dari sisi portofolio di sektor strategis yang terdiversifikasi serta ketahan energi nasional. Sementara dari sudut pandang ENRG lebih ke arah ekspansi geografis dan aspek penguasaan teknologi sebagai nilai tambah yang diharapkan dari investasi.

"Ko-investasi pada dasarnya sangat umum dilakukan. Danantara dan ENRG menjadi salah satunya. Danantara dari sisi SWF, sementara ENRG sebagai pelaku migas asal Indonesia. Besar harapannya manfaat itu dirasa oleh sektor migas Indonesia juga dari investasi ini" pungkas Yosua.


(ayh/ayh)
Saksikan video di bawah ini:

Danantara Soal Kinerja BUMN: 97% Dividen Hanya Dari 15 Perusahaan