IHSG Ditutup Menguat 1,21% ke Level 6.192
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Selasa (6/10/2026) di zona hijau. IHSG berada di level 6.192,93, naik 74,07 poin atau 1,21%.
IHSG dibuka di level 6.139,13 dan sempat menyentuh titik terendah intraday di 6.120,24. Indeks kemudian bergerak menguat secara bertahap hingga mencapai level tertinggi di 6.216,44. Memasuki akhir sesi, indeks sempat terkoreksi dari level puncaknya, namun tetap bertahan di zona hijau hingga perdagangan berakhir.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 468,95 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp10.970,84 miliar atau sekitar Rp10,97 triliun.
Pendorong kenaikan IHSGÂ sepanjang hari ini berasal dari sektor energi yang melesat 4,14%, disusul sektor teknologi yang naik 2,7%, dan sektor material dasar sebesar 2,2%.
Adapun saham-saham pengungkit IHSGÂ sepanjang hari ini antara lain, PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN),PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT. Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT. DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO).
Sementara saham-saham penekan IHSGÂ antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT. Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), dan PT. Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA).
Sentimen perdagangan hari ini datang dari dalam dan luar negeri. Aktivitas jasa Jepang melambat dan kepercayaan konsumen melemah tipis, sementara sektor jasa zona euro justru mencatat penguatan.
Namun, kenaikan harga produsen di kawasan tersebut menunjukkan tekanan inflasi belum mereda, sehingga prospek pertumbuhan tetap harus ditimbang bersama risiko pengetatan kebijakan moneter.
Hari ini, perhatian beralih pada pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta neraca perdagangan Amerika Serikat (AS).
Imbal hasil US Treasury tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin (5/10/2026), setelah investor mencermati data ekonomi terbaru dan menanti risalah rapat The Fed September.
Imbal hasil Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307%. Sempat melonjak 7 basis poin ke 5,349%, level tertinggi sejak 3 April 2002.
Sementara imbal hasil Treasury 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,661%, setelah sempat menyentuh 5,703% atau level tertinggi sejak akhir Mei 2002. Satu basis poin setara 0,01%.
Dari dalam negeri, antrean penawaran umum menjadi perhatian terkait pendanaan korporasi, sementara aturan pengalihan pengawasan bursa mineral menambah perkembangan penting dalam penataan pasar keuangan.
OJK menyampaikan kemarin bahwa terdapat 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga September telah mencapai Rp186,03 triliun, dengan target sepanjang 2026 sebesar Rp250 triliun.
Antrean tersebut menunjukkan perusahaan masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Namun, nilai indikatif belum merupakan dana yang terealisasi, dan penawaran umum tidak seluruhnya berarti IPO saham.