Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp17.875

Elaine Tairio, CNBC Indonesia
Selasa, 06/10/2026 09:16 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah kembali bergerak di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (6/10/2026), setelah sehari sebelumnya mengakhiri perdagangan dengan pelemahan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan apresiasi 0,11% ke posisi Rp17.875/US$, dibandingkan penutupan Senin (5/10/2026) di Rp17.895/US$.


Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah tipis di level Rp17.895/US$. Dibandingkan posisi penutupan tersebut, Mata Uang Garuda menguat 20 poin pada pembukaan pagi ini.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 102,138.

Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi sejumlah perkembangan dari pasar global. Salah satu perhatian utama datang dari pasar obligasi Amerika Serikat setelah imbal hasil US Treasury tenor panjang kembali melonjak pada perdagangan Senin (5/10/2026).

Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,349%, level tertinggi sejak April 2002, sebelum berada di 5,307%. Sementara tenor 30 tahun sempat mencapai 5,703%, tertinggi sejak Mei 2002, sebelum turun ke 5,661%.

Kenaikan imbal hasil terjadi setelah pasar mencermati data terbaru sektor jasa AS. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan PMI jasa berada di level 54,9 pada September, sedikit di bawah pertumbuhan Agustus dan sesuai ekspektasi.

Meski pertumbuhannya melambat, aktivitas sektor jasa AS masih berada di zona ekspansi. Perhatian pasar justru tertuju pada komponen harga yang melonjak ke 74, tertinggi sejak Juli 2022 dan telah berada di atas 70 dalam enam dari tujuh bulan terakhir.

Tekanan harga yang masih tinggi menunjukkan risiko inflasi AS belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini menjadi penyeimbang bagi laporan tenaga kerja September yang sebelumnya menunjukkan pelemahan dan sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Tingginya imbal hasil Treasury dapat menjaga daya tarik aset berbasis dolar AS dan menjadi tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelaku pasar selanjutnya menantikan neraca perdagangan AS periode Agustus yang dijadwalkan rilis Selasa malam. Konsensus memperkirakan defisit melebar menjadi US$102 miliar dari US$88,6 miliar pada Juli.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD