MARKET DATA

Rupiah Ditutup Melemah 0,15%, Nilai Tukar Dolar AS Tembus Rp17.895

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
05 October 2026 15:18
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah diDolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan terhadap rupiah belum benar-benar mereda pada perdagangan Senin (5/10/2026). Mata uang Garuda sempat berbalik menguat di tengah sesi, tetapi gagal mempertahankan penguatannya hingga penutupan dan kembali berakhir di zona merah.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.895/US$, melemah 0,15% dibandingkan penutupan Jumat (2/10/2026) di Rp17.868/US$. Penutupan tersebut membalikkan penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya. Secara nominal, rupiah melemah 27 poin dari posisi penutupan Jumat.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak cukup fluktuatif. Mata uang Garuda sempat tertekan hingga Rp17.935/US$, sebelum berbalik menguat ke level terbaiknya di Rp17.850/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir sesi.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,25% ke posisi 102,187.

Dolar AS masih menunjukkan penguatan pada awal pekan dan bertahan di sekitar level tertingginya dalam 17 bulan terakhir. Kekuatan greenback masih mendapat dukungan dari imbal hasil US Treasury yang tetap tinggi, sementara meningkatnya volatilitas di pasar obligasi global turut menjaga permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.

Kondisi tersebut membuat tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, belum sepenuhnya mereda.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir mulai menjadi perhatian bukan hanya dari sisi pasar keuangan, tetapi juga dampaknya terhadap tekanan harga.

Tim Ekonom BCA dalam laporan bulanannya mencatat inflasi harga grosir meningkat menjadi 6,76% secara tahunan pada September, dari 6,18% pada Agustus. Kenaikan tersebut menunjukkan tekanan harga input di tingkat produsen masih berlanjut dan berpotensi diteruskan ke harga konsumen dalam beberapa bulan mendatang.

BCA menilai dampak tekanan kurs terhadap barang impor sejauh ini relatif terbatas karena sebagian besar impor Indonesia merupakan barang input industri. Namun, depresiasi rupiah yang berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas global dapat meningkatkan beban biaya bagi importir.

Tekanan tersebut menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati karena kenaikan biaya bahan baku dan barang impor pada akhirnya dapat diteruskan oleh produsen ke harga konsumen. Pelaku pasar selanjutnya juga akan menantikan rilis cadangan devisa September serta indeks keyakinan konsumen September.



(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Melemah Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.650


Most Popular
Features