MARKET DATA

Rupiah Melemah Lagi, Dolar AS Kini Naik Jadi Rp 17.950

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
05 October 2026 09:12
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah menguat pada akhir pekan lalu, rupiah membuka perdagangan Senin (5/10/2026) dengan melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.950/US$, melemah 0,46% atau 82 poin dibandingkan penutupan Jumat (2/10/2026) di Rp17.868/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau di posisi 102,030, menguat 0,10%.

Pergerakan rupiah hari ini akan diwarnai sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari domestik, pasar pada pekan ini menantikan rilis cadangan devisa September serta indeks keyakinan konsumen September. Kedua data tersebut akan menjadi perhatian untuk melihat ketahanan eksternal dan kondisi permintaan domestik Indonesia.

Dari eksternal, pasar masih mencerna laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat malam. Pertumbuhan lapangan kerja AS melambat tajam pada September 2026. Non-farm payrolls hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 90.000 pekerjaan.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%. Data tenaga kerja yang lebih lemah tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya.

Meski data tenaga kerja AS melemah, dolar AS pada perdagangan pagi ini justru bergerak menguat. Penguatan DXY turut menjadi tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran serta situasi di Selat Hormuz. Pergerakan harga minyak turut menjadi perhatian karena berpotensi mempengaruhi inflasi global dan ekspektasi suku bunga.

Sepanjang pekan ini, investor juga akan menantikan data aktivitas sektor jasa AS serta notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]
Next Article BI Buka Suara Soal Dolar AS Rp17.900, Ini Biang Keroknya


Most Popular
Features