Kinerja BRI Kinclong, 3 Indikator Ini di Atas Rata-Rata Industri
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat, laba periode berjalan pada Januari hingga Agustus 2026 sebesar Rp34,77 triliun.
Mengutip laporan keuangan bulanan per 31 Agustus 2026 yang disampaikan dalam website resminya, laba sebelum pajak tercatat Rp42,57 triliun, ditopang pendapatan bunga bersih Rp77,25 triliun dari pendapatan bunga Rp109,66 triliun dan beban bunga Rp32,41 triliun.
Salah satu indikator yang menarik dari kinerja BRI adalah dana tabungan. Per akhir Agustus 2026, simpanan tabungan BRI mencapai Rp623,72 triliun, yang merupakan komponen terbesar dalam struktur dana pihak ketiga (DPK).
Selain tabungan, BRI memiliki dana giro sebesar Rp449,36 triliun dan deposito Rp582,74 triliun. Dengan giro dan tabungan (CASA) mencapai sekitar 64,8% dari DPK, BRI memiliki struktur pendanaan yang didominasi dana murah.
Dari data tersebut, total DPK BRI mencapai sekitar Rp1.655,84 triliun. Sementara itu, beban bunga selama delapan bulan mencapai Rp32,41 triliun. Jika disetahunkan secara sederhana, beban bunga tersebut setara sekitar Rp48,6 triliun. Dibandingkan dengan DPK, angka tersebut menghasilkan perkiraan cost of fund (CoF) sekitar 2,9%.
Sebagai pembanding, kondisi industri perbankan nasional juga menunjukkan pertumbuhan dana yang cukup kuat. Bank Indonesia mencatat DPK perbankan tumbuh 10,94% secara tahunan pada Agustus 2026. Pada periode yang sama, kredit perbankan tumbuh lebih cepat, yakni 13,65% secara tahunan, meningkat dari 13,58% pada Juli 2026.
Pertumbuhan kredit industri tersebut terutama ditopang kredit investasi yang tumbuh 25,11%, kredit modal kerja 11,45%, dan kredit konsumsi 5,07%. BI juga mencatat minat penyaluran kredit masih cukup longgar seiring pertumbuhan DPK yang tetap tinggi.
Dengan kondisi tersebut, BRI memiliki ruang untuk terus menyalurkan kredit dengan dukungan basis dana murah yang besar. Hingga Agustus 2026, total kredit BRI mencapai Rp1.446,98 triliun, atau sekitar 87% dari DPK.
Sementara dari sisi kualitas aset, beban kerugian penurunan nilai aset keuangan tercatat Rp29,94 triliun. Terhadap total kredit Rp1.446,98 triliun, biaya kredit (cost of credit/CoC) setara sekitar 3,1% secara tahunan. Untuk mengantisipasi risiko kredit, BRI telah membentuk cadangan kerugian penurunan nilai kredit dan pembiayaan syariah sebesar Rp77,09 triliun.
Di level industri, kualitas kredit perbankan nasional hingga Agustus 2026 masih relatif terjaga. BI mencatat rasio NPL gross sebesar 2,10% dan NPL net 0,81% pada Juli 2026. Dari sisi permodalan, CAR perbankan berada di level 23,84%, sementara rasio alat likuid terhadap DPK tercatat 23,04% pada Agustus 2026.
Artinya, di tengah pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK, industri perbankan masih memiliki bantalan likuiditas dan permodalan yang kuat. BRI sendiri memiliki posisi dana murah yang cukup besar dengan CASA 64,8% dan CoF yang diperkirakan sekitar 2,9%, sementara CoC berada di kisaran 3,1%.
Secara keseluruhan, total aset BRI mencapai Rp2.127,78 triliun, dengan total liabilitas Rp1.825,35 triliun dan total ekuitas Rp302,43 triliun. Kredit yang disalurkan tercatat Rp1.446,98 triliun, sehingga rasio kredit terhadap DPK berada di kisaran 87%. Selama periode berjalan, perseroan juga telah membayarkan dividen Rp52,10 triliun.
(rob/rob)