Rupiah Ditutup Perkasa, Dolar AS Turun ke Posisi Rp17.870
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menutup perdagangan terakhir September dengan hasil positif. Mata uang Garuda berhasil menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus menjauh dari level psikologisnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan Rabu (30/9/2026) dengan apresiasi 0,50% ke posisi Rp17.870/US$. Dibandingkan penutupan Selasa di Rp17.960/US$, rupiah menguat 90 poin.
Penguatan tersebut membawa rupiah menjauh dari level Rp18.000/US$ yang sempat ditembus pada perdagangan intraday sehari sebelumnya.
Rupiah sudah bergerak di zona hijau sejak awal perdagangan dengan dibuka di posisi Rp17.910/US$. Penguatannya kemudian semakin besar hingga menyentuh Rp17.825/US$, yang menjadi posisi terkuat hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,10% ke posisi 101,269.
Koreksi indeks dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk menguat. Perbaikan sentimen pasar juga ditopang meredanya kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah dan turunnya harga minyak dunia.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA menilai sentimen pasar mulai berbalik positif setelah muncul kabar mengenai peluang meredanya ketegangan geopolitik.
"Sentimen market sedikit berbalik positif menyusul adanya laporan yang menyebutkan bahwa Gedung Putih terbuka untuk mempertimbangkan peninjauan kembali sanksi terhadap Iran demi meredakan tensi konflik geopolitik," tulis Nafan dalam laporan Strategy Notes & JCI Technical View: Room for a Recovery, dikutip Rabu (30/9/2026).
Kabar tersebut meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan menekan harga minyak dunia. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga minyak mentah WTI turun 3,95% menjadi US$88,95 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,99% ke US$95,88 per barel.
Penurunan harga minyak turut meredakan tekanan inflasi global. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun terkoreksi 0,10% ke level 5,24%.
Meski demikian, pelaku pasar masih menantikan sejumlah data ekonomi penting AS, mulai dari indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, pertumbuhan ekonomi, hingga laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau nonfarm payrolls. Data tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar dalam membaca arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Secara tahunan, inflasi PCE utama diproyeksikan bertahan di level 3,7%, sedangkan PCE inti diperkirakan sebesar 3,3%. Keduanya masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tekanan harga juga berlangsung ketika konsumsi masyarakat AS masih kuat. Belanja konsumen pada Agustus diperkirakan tumbuh 0,8% secara bulanan, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli.
"Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan konsumsi yang tetap resilien dapat menjadi sinyal bahwa permintaan domestik AS belum cukup melemah untuk memberikan tekanan penurunan harga secara signifikan," tulis
(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]