Breaking! IHSG Anjlok 2%

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Selasa, 29/09/2026 09:34 WIB
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Kamis 26/3/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperdalam pelemahannya pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Berdasarkan data Stockbit sekitar pukul 09.28 WIB, IHSG berada di level 6.020,57, turun 127,29 poin atau 2,07%

IHSG dibuka di posisi 6.118,81 dan sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.126,62 pada menit-menit awal. Setelah itu, indeks bergerak turun secara bertahap. Rebound singkat ke area 6.100-an sempat terjadi, tetapi tidak cukup kuat untuk membalikkan arah. Tekanan jual kembali mendominasi hingga indeks menyentuh level terendah harian di 6.013,08,


Aktivitas perdagangan pun meningkat. Volume transaksi tercatat mencapai 110,24 juta lot dengan nilai sekitar Rp2.836,67 miliar, atau lebih dari Rp2,8 triliun. Dibandingkan data sekitar pukul 09.22 WIB, yang mencatat volume 92,07 juta lot dan nilai Rp2.305,41 miliar, terjadi tambahan transaksi sekitar Rp531 miliar hanya dalam hitungan menit.

Tekanan terhadap IHSG terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai mulai Senin (28/9/2026).

Perubahan tersebut juga disertai penyesuaian batas auto rejection. Untuk saham dengan harga Rp1-Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1, sementara ARB asimetris 15% masih berlaku untuk saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.

BEI menyebut perubahan harga minimum tersebut ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan saham, meningkatkan kualitas price discovery, mendorong likuiditas, serta memberi fleksibilitas lebih besar bagi investor dalam mengelola portofolio.

Di saat bersamaan, tekanan eksternal masih membayangi pasar domestik. Kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta tingginya suku bunga global masih berpotensi mendorong volatilitas pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,53% ke posisi Rp17.965/US$, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000/US$.



(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sebab Rupiah Melemah & Berpotensi Tembus Rp 18.000/USD