Konglomerat Bisnis Terkaya Goyang Gegara Perintah Bank Sentral
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu konglomerat tertua di India, Tata Group, tengah dilanda konflik internal. Pemicunya adalah dorongan regulator agar induk usaha grup, Tata Sons, melantai di bursa saham. Perbedaan sikap soal rencana tersebut kini berujung pada perseteruan terbuka antara Noel Tata dan Chairman Tata Sons, N. Chandrasekaran.
Dikutip dari The Wall Street Journal, dewan direksi Tata Sons pada 17 September lalu memutuskan memberi Chandrasekaran masa jabatan ketiga. Empat anggota dewan mengalahkan suara Noel Tata. Noel menilai pemungutan suara itu tidak sah, sementara dewan menolak klaim tersebut.
Perselisihan ini berakar dari keputusan Reserve Bank of India (RBI) pada 2022. Bank sentral India meminta Tata Sons mencatatkan sahamnya di bursa sesuai aturan baru bagi perusahaan investasi yang dianggap penting secara sistemik. Tata Sons masuk kategori itu karena memiliki saham di berbagai anak usaha Tata dan dapat menyuntikkan modal ke dalamnya.
RBI disebut kembali menegaskan perintah tersebut beberapa hari sebelum rapat dewan. Manajemen Tata Sons di bawah Chandrasekaran menyatakan akan patuh. Dewan pun menyatakan akan mengikuti arahan bank sentral.
Sikap berbeda datang dari Noel Tata, yang memimpin Tata Trusts sejak 2024. Kelompok yayasan amal itu menguasai sekitar dua pertiga saham Tata Sons. Dalam rapat dewan, Noel menyebut grup itu dibangun sebagai "pengabdian nasional yang dijalankan lewat bisnis". Menurutnya, struktur kepemilikan saat ini yang menjaga misi tersebut tetap hidup.
Dividen Tata Sons mengalir ke Tata Trusts hingga ratusan juta dolar AS per tahun. Pada tahun yang berakhir Maret 2025, trust membelanjakan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,78 triliun) untuk pendidikan, kesehatan, dan program sosial lain.
Voting ini menjadi titik balik bagi Chandrasekaran, yang memimpin Tata Sons sejak 2017. Sebelumnya ia menyatakan akan mundur pada akhir masa jabatan Februari mendatang, dengan alasan tidak mendapat dukungan dari salah satu anggota dewan yang tidak ia sebutkan namanya. Noel Tata diyakini luas sebagai sosok yang dimaksud.
Namun dalam rapat 17 September, seluruh anggota dewan selain Noel mendukung perpanjangan masa jabatannya. Termasuk Venu Srinivasan, yang bersama Noel mewakili Tata Trusts di dewan Tata Sons. Chandrasekaran sebenarnya berharap dipilih secara aklamasi, tetapi bersedia bertahan. Menurut sumber yang mengetahui pemikirannya, ia menimbang momentum penting perusahaan, mulai dari investasi besar hingga mandat listing.
Pergolakan ini mulai terasa di pasar. Sebanyak 26 perusahaan tercatat milik Tata memiliki kapitalisasi pasar hampir US$280 miliar (sekitar Rp4.995 triliun) pada Maret. Dalam beberapa pekan terakhir, kisruh kepemimpinan menekan harga saham sejumlah perusahaan grup.
Pendukung listing menilai langkah ini akan meningkatkan transparansi penggunaan dana dan membuka akses Tata Sons menghimpun modal langsung. Kebutuhan itu besar, terutama untuk ekspansi di semikonduktor dan manufaktur elektronik, serta upaya memulihkan maskapai Air India yang merugi. Tata juga merupakan satu-satunya perakit iPhone asal India untuk Apple.
Deven Choksey, Managing Director DRChoksey FinServ, menyoroti ketergantungan grup pada Tata Consultancy Services (TCS) sebagai penopang laba utama. Ia mengingatkan, kinerja TCS bisa lebih fluktuatif jika kecerdasan buatan menggeser layanan sistem back-office yang menjadi bisnis intinya. Tanpa listing, ia mempertanyakan dari mana pendanaan investasi sebesar itu akan datang.
Harish Salve, pengacara yang menasihati Tata Sons dan Chandrasekaran, menyebut dorongan listing bertujuan memastikan perusahaan bersumber dana publik besar dikelola dengan standar tata kelola tertinggi. Shapoorji Pallonji Group, pemegang sekitar 18% saham Tata Sons yang ingin melepas sebagian kepemilikannya, menyambut baik langkah RBI.
Sejumlah pakar tata kelola menilai gejolak ini tak lepas dari suksesi bertahap mendiang Ratan Tata, kakak tiri Noel yang wafat pada 2024. Ratan melepas kursi chairman Tata Sons bertahun-tahun sebelumnya, tetapi tetap memimpin trust hingga akhir hayat. Shriram Subramanian, Managing Director InGovern Research Services, menilai gangguan akan lebih kecil bila Noel diberi kesempatan mengambil alih trust lebih awal saat Ratan masih hidup.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]