Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Rp17.920 Pagi Ini

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Senin, 28/09/2026 09:10 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kehilangan tenaga terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. 

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah terdepresiasi 0,22% ke posisi Rp17.920/US$.


Pergerakan tersebut membalikkan penguatan tipis pada Jumat (25/9/2026), ketika rupiah berhasil bangkit dari tekanan dan ditutup naik 0,03% di level Rp17.880/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada penutupan Jumat pekan lalu melemah 0,31% di level 100,971. 

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini hingga sepekan ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari domestik, pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Indonesia periode September pada Kamis (1/10/2026).

Data yang akan diumumkan mencakup inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan. Perkembangan inflasi akan menjadi salah satu rujukan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.

Pada Agustus, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,19% dari 2,28% pada Juli, sekaligus melampaui perkiraan pasar sebesar 3,13%.

Inflasi inti turut naik menjadi 2,92%, tertinggi sejak Maret 2023, sedangkan inflasi bulanan tercatat sebesar 0,21%.

Data September akan dicermati untuk mengukur perkembangan tekanan harga dan ruang kebijakan moneter BI. Inflasi yang tetap terkendali dalam sasaran 1,5%-3,5% dapat memberi ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif. Sebaliknya, kenaikan inflasi inti dapat membatasi ruang pelonggaran suku bunga.

Dari eksternal, arah pergerakan dolar AS masih menjadi perhatian utama. Seperti mengutip Reuters, greenback melemah pada Jumat setelah harga minyak dunia turun lebih dari 2% dan pelaku pasar mengambil keuntungan setelah dolar menguat selama empat hari beruntun.

Harga minyak turun seiring munculnya harapan tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran. Harapan tersebut untuk sementara meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan akibat meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Kendati demikian, harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel. Level tersebut tetap berpotensi menjaga tekanan inflasi global dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga sejumlah bank sentral.

Meski terkoreksi pada Jumat, DXY masih membukukan penguatan mingguan untuk kedua kalinya secara beruntun. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan tingginya imbal hasil US Treasury masih menopang dolar AS.

"Dolar tidak benar-benar melemah secara material. Pergerakannya hanya sedang mengambil jeda," ujar Eugene Epstein, Kepala Perdagangan dan Produk Terstruktur Moneycorp.

Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 66% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Oktober. Angkanya meningkat dari sekitar 58% sepekan sebelumnya.

Ekspektasi pengetatan kembali menguat setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack memperingatkan bahwa inflasi yang bertahan di atas target 2% dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap kemampuan bank sentral mengendalikan harga.

Data ekonomi AS juga masih menunjukkan ketahanan. Pesanan baru barang modal buatan AS pada Agustus meningkat lebih tinggi dari perkiraan, sementara data bulan sebelumnya direvisi naik cukup tajam. Kondisi tersebut menunjukkan belanja dunia usaha masih kuat dan dapat memperkuat alasan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD