MARKET DATA

Mal Terbesar Roboh Gara-Gara Bos Ogah Perbaiki Gedung, 502 Orang Tewas

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
27 September 2026 06:40
Sampoong Department Store runtuh. (Tangkapan Layar Youtube/)
Foto: Sampoong Department Store runtuh. (Tangkapan Layar Youtube/)

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Mengabaikan tanda-tanda kerusakan demi mengeruk keuntungan berujung pada malapetaka kemanusiaan yang paling kelam di Korea Selatan. Tragedi runtuhnya Sampoong Department Store, yang saat itu tercatat sebagai mal terbesar di negeri ginseng, merupakan salah satu bencana non-alam paling mengerikan dalam sejarah modern akibat keserakahan dan kelalaian manajemen.

Insiden mematikan yang terjadi pada 29 Juni 1995 ini merenggut nyawa sebanyak 502 orang, sementara lebih dari 1.500 pengunjung dan staf terkubur di bawah reruntuhan beton.

Mengutip The Guardian, pihak pengelola sebenarnya telah mendeteksi tanda-tanda ancaman bahaya sejak tiga bulan sebelum mal ambruk. Pada April 1995, kerusakan parah berupa retakan panjang mulai terlihat jelas di bagian atap dan dinding lantai lima.

Namun, alih-alih menutup gedung untuk melakukan audit keselamatan menyeluruh, manajemen justru memilih jalan pintas dengan memindahkan kios-kios di lantai lima ke lantai bawah. Sementara itu, operasional di empat lantai lainnya tetap dibiarkan berjalan normal demi meraup cuan.

Puncak Tragedi: AC Dimatikan, Petinggi Kabur, Mal Ambruk

Puncaknya terjadi pada sore hari nahas tanggal 29 Juni 1995. Retakan pada bangunan dilaporkan semakin melebar dan merembet hingga ke lantai empat.

Dibanding menutup pusat perbelanjaan yang tengah dipadati pengunjung, pihak manajemen lagi-lagi memilih mengabaikan keselamatan publik. Mereka hanya menutup area lantai empat dan mematikan seluruh sistem pendingin ruangan (AC) di dalam gedung dengan alasan tidak ingin kehilangan potensi transaksi bisnis yang sedang tinggi-tingginya hari itu.

Ironisnya, begitu menyadari situasi gedung sudah sangat berbahaya, para petinggi manajemen justru memilih kabur meninggalkan lokasi. Di sisi lain, ribuan pegawai tetap dipekerjakan untuk melayani pengunjung yang terus berdatangan. Para pengunjung sama sekali tidak menyadari tingkat kerusakan struktur gedung, dan hanya merasakan suasana mal yang semakin pengap dan panas akibat AC dimatikan.

Hingga sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara retakan hebat dan gemuruh mengerikan mulai terdengar dari dalam bangunan. Suasana seketika berubah menjadi kepanikan massal saat pengunjung berlarian mencari jalan keluar dan alarm bahaya berbunyi. Namun, semuanya sudah terlambat.

"Dari seberang toko terdengar suara seperti kereta bawah tanah memasuki stasiun, dan ketika kami mendengar suara itu, orang-orang mulai berlarian ke sana ke mari. Tiba-tiba sepotong beton jatuh di kepala saya dan saya pingsan," kenang Park Seung-Hyun, salah satu penyintas, dikutip dari BBC International.

Hanya dalam kurun waktu sekitar 20 detik, bangunan megah berlantai lima itu runtuh total dan meratakan seluruh isinya, menimbun lebih dari 1.500 orang di bawah tonase beton. Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica, tim penyelamat gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi 937 korban luka-luka, menemukan 502 korban jiwa, sementara enam orang lainnya hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Akar Masalah: Dari Bekas Tempat Sampah hingga Konstruksi Cacat

Hasil investigasi mendalam yang dirilis The Guardian mengungkap bahwa akar dari bencana ini sudah ditanam sejak proses pembangunan gedung dimulai pada tahun 1987. Lahan tempat berdirinya mal tersebut ternyata merupakan bekas tempat pembuangan sampah (landfill) yang kondisi tanahnya tidak stabil untuk menopang struktur bangunan komersial berskala masif.

Kontraktor awal proyek sebenarnya sudah memberikan peringatan keras terkait risiko tinggi pembangunan di atas lahan labil tersebut, serta menyarankan agar lokasi itu dijadikan kompleks apartemen dengan struktur beton yang lebih kuat.

Namun, pemilik Sampoong, Lee Joon, dengan arogan menolak masukan tersebut dan tetap memaksa membangun pusat perbelanjaan. Ketika kontraktor pertama menolak menuruti rancangannya demi alasan keselamatan jiwa, Lee Joon dengan mudah memecat mereka dan menggantinya dengan kontraktor lain yang mau menuruti instruksinya.

Investigasi resmi akhirnya menyimpulkan bahwa keruntuhan fatal Sampoong Department Store diakibatkan oleh kombinasi buruknya perencanaan konstruksi sejak awal serta kelalaian fatal pihak pengelola dalam merawat bangunan.

Pengadilan pun menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada sang pemilik, Lee Joon, serta tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang, atas kelalaian berat yang berujung pada hilangnya ratusan nyawa manusia.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bank Korea Waspada Inflasi, Suku Bunga Bisa Naik Lagi


Most Popular
Features