Dolar AS Dekati Rp18.000/US$, Airlangga Buka Suara

haa, CNBC Indonesia
Jumat, 25/09/2026 13:58 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Meski rupiah masih berada dalam tren pelemahan, Airlangga menilai pergerakan tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar dan terus dipantau pemerintah.

"Ya kita lihat saja, kita monitor. Kan fluktuasi itu sesuatu yang biasa ya," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).


Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Garuda. Hingga perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.900 per dolar AS.

Level tersebut membuat rupiah semakin dekat dengan ambang Rp18.000 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Refinitiv pada pukul 13.50 WIB, terpantau nilai tukar rupiah kembali menguat ke level Rp 17.895 per dolar AS. 

Meski demikian, Airlangga tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai langkah yang akan ditempuh pemerintah untuk merespons pelemahan rupiah. Ia hanya menegaskan bahwa perkembangan nilai tukar terus dimonitor.

Pergerakan rupiah belakangan terjadi di tengah volatilitas pasar keuangan global yang masih tinggi. Fluktuasi nilai tukar juga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pergerakan dolar AS, arus modal asing, hingga sentimen terhadap prospek ekonomi global.

Pemerintah dan otoritas moneter selama ini terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Menurut Bank Indonesia (BI), tekanan datang baik dari global maupun domestik, mulai dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) hingga kebutuhan dolar importir menjelang akhir kuartal III.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah juga dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan outlook fiskal.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun hingga mencapai 5,11%, level tertinggi sejak 2007.

"Perlemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007," ujar Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia sehingga harga minyak Brent kembali menembus di atas US$100 per barel.

Dari dalam negeri, tekanan nilai tukar terutama berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III serta arus keluar portofolio dari aset-aset negara berkembang atau emerging markets.

Menghadapi tekanan tersebut, BI menegaskan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Strategi tersebut ditujukan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus memperkuat efektivitas stabilisasi.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kemenkeu & BI Makin "Akur", Apa Efeknya Bagi Pasar Modal RI?