IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (24/9/2026), setelah anjlok signifikan pada sesi perdagangan kemarin.
Berdasarkan data IDX Mobile, pada pembukaan perdagangan IHSG naik 16,93 poin atau 0,27% ke level 6.315,53. Beberapa menit setelah pasar buka IHSG menguat lebih tinggi hingga 0,45%. Indeks diketahui bergerak pada rentang terendah 6.311 dan tertinggi 6.327 pada awal perdagangan pagi ini.
Sebanyak 183 saham menguat, 120 saham melemah, dan 306 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 76 miliar, dengan volume perdagangan 180,74 juta saham yang berpindah tangan 27.965 kali.
Memasuki perdagangan terakhir pekan ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pertumbuhan uang beredar, langkah Bank Indonesia menjaga rupiah, serta hasil pembahasan kondisi ekonomi dan postur APBN 2027. Sementara itu, pergerakan dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, dan konflik Timur Tengah masih menjadi perhatian dari luar negeri
Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan suku bunga AS masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang dinilai terlalu tinggi.
Presiden Philadelphia Fed Anna Paulson menyebut inflasi masih "membandel" dan membuka peluang pengetatan lanjutan. Sementara Presiden New York Fed John Williams menilai kenaikan suku bunga lagi pada akhir 2026 merupakan langkah yang masuk akal.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75%-4,00%. Inflasi PCE AS tercatat 3,7% pada Juli, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Yield obligasi Treasury AS tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun pada Kamis (24/9/2026), memperpanjang aksi jual obligasi global.
Tak hanya AS, aksi jual obligasi juga melanda negara maju. Kondisi ini membuat bunga pinjaman global makin meningkat sehingga ekonomi bisa tertekan.
Yield Treasury 30 tahun menembus 5,48%, tertinggi sejak 2004, sementara yield tenor 10 tahun mencapai 5,20%.
Lonjakan yield dipicu kekhawatiran harga energi tinggi, ekonomi AS yang tetap kuat, inflasi yang membandel, serta meningkatnya belanja pemerintah akan membuat inflasi bertahan lebih lama.
Investor kini mulai melihat 6% pada yield Treasury 10 tahun sebagai level yang berpotensi menekan pasar keuangan dan perusahaan AS.
Kenaikan yield juga membuat biaya pinjaman masyarakat semakin mahal. Suku bunga KPR 30 tahun AS kini sekitar 7%, atau 1 poin persentase lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran.
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi global. Perekonomian negara-negara terbesar di dunia menghadapi beban pembayaran bunga yang semakin tinggi ketika kebutuhan belanja pemerintah melonjak.
Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik bergerak variatif pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Pergerakan bursa Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
Indeks saham Jepang menguat sementara Australia melemah. Nikkei 225 Jepang naik 0,25%, sedangkan Topix menguat 0,40%, sementara S&P/ASX 200 Australia turun 0,48%.
(fsd/fsd)