Intip 5 Rekomendasi Saham yang Potensi Kasih Cuan Hari Ini

, CNBC Indonesia
Kamis, 24/09/2026 08:48 WIB
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam

Jakarta, CNBC Indonesia - IHSG ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,91 pada perdagangan Rabu (23/9). 

Penguatan indeks ditopang kenaikan BBCA sebesar 1,61%, DSSA 9,18%, dan BYAN 3,80% yang menjadi leading movers. Sebaliknya, TLKM turun 1,21%, KPIG melemah 14,06%, dan ASII terkoreksi 0,63% sebagai lagging movers. 

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp468,26 miliar di pasar reguler dan Rp461,35 miliar di seluruh pasar. Seluruh 11 sektor ditutup di zona hijau, dengan sektor Basic Industry mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,47%. 


Di pasar AS, Dow Jones turun 0,68% ke 51.511, S&P 500 melemah 0,75% ke 7.706, sementara Nasdaq terkoreksi 1,13% ke 26.936. Penguatan sektor Basic Materials turut menopang IHSG, seiring sentimen positif atas revisi formula HPM limonit yang dinilai berpotensi memengaruhi economics smelter HPAL. ETF EIDO dan MSCI Indonesia juga masing-masing naik 0,82% dan 0,81%.

Dari sisi aksi korporasi, ada Jababeka (KIJA) yang melanjutkan kerja sama dengan Pertamina (Persero) dalam pengembangan energi hijau di Kawasan Industri Jababeka. Kolaborasi tersebut merupakan kelanjutan dari skema kerja sama yang sebelumnya diteken dalam B20 Summit dan World Economic Forum G20 pada 2022. 

Ruang lingkup kerja sama mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), kredit karbon, hingga pengolahan limbah menjadi energi. Perseroan juga menjajaki pemanfaatan hidrogen hijau untuk mendukung transportasi rendah karbon dalam konsep Transit Oriented Development (TOD). 

Memasuki 2027, fokus pengembangan diarahkan pada hidrogen, biometana, dan potensi panas bumi. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) Jababeka di kawasan yang saat ini dihuni sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara.

Selanjutnya, ada Bukit Uluwatu Villa (BUVA) yang memperluas eksposurnya di sektor hiburan dan gaya hidup Bali melalui investasi pada Kharisma Jawara Abadi (KJA) sebagai entitas asosiasi dengan kepemilikan efektif 16,27%. 

KJA sendiri menguasai 58,36% KAJA Group, pengembang destinasi hiburan Zumana di Kuta, sehingga kepemilikan efektif BUVA atas Zumana mencapai sekitar 9,50%. Berdiri di atas lahan sekitar 3.500 meter persegi di Sunset Bay Kuta, Zumana dikembangkan bersama Savaya Group dan dirancang oleh Rockwell Group. 

Investasi ini memperluas model bisnis BUVA dari akomodasi ke segmen beach club, F&B, dan hiburan dengan karakter pendapatan harian. Ekspansi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan pariwisata Bali, dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 naik 9,72% YoY menjadi 6,95 juta kunjungan dari 6,33 juta kunjungan pada 2024. 

Kontribusi investasi ini terhadap kinerja BUVA baru diperkirakan mulai tercermin pada paruh kedua 2026 melalui bagian laba entitas asosiasi, bukan pendapatan konsolidasi.

Adapun Bhuwanatala Indah Permai (BIPP) berencana melakukan private placement dengan menerbitkan maksimal 502,87 juta saham baru seri B, setara 10% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. 

Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp100 per saham, aksi korporasi tersebut berpotensi menghimpun dana sekitar Rp50,29 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta memenuhi kebutuhan pendanaan dan modal kerja perseroan maupun entitas anak. 

Berdasarkan proforma 1H26, total ekuitas diproyeksikan meningkat 5,27% menjadi Rp1 triliun, sementara total aset naik 2,74% menjadi Rp1,88 triliun. Rasio liabilitas terhadap ekuitas diproyeksikan membaik dari 0,92 kali menjadi 0,87 kali. 

Di sisi lain, pemegang saham eksisting berpotensi mengalami dilusi sekitar 9,09%, dengan kepemilikan Safire Capital Pte Ltd selaku pengendali turun dari 61,62% menjadi 56,02%. Rencana aksi korporasi tersebut masih menunggu persetujuan RUPS Independen yang dijadwalkan pada 25 September.

Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. 


(ayh/ayh)