BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Menguat ke Rp17.795 per Dolar AS

Elaine Tairio, CNBC Indonesia
Rabu, 23/09/2026 15:08 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Penguatan terjadi seiring dengan keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate. 

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.795/US$, menguat 0,31% atau 55 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.850/US$.

Penguatan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.835/US$ dan sempat menguat hingga Rp17.775/US$, yang menjadi level terkuatnya pada perdagangan hari ini. 


Menariknya, penguatan rupiah terjadi ketika dolar AS masih bergerak menguat di pasar global. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 100,755 atau menguat 0,15%.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23 September 2026. BI memutuskan untuk kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar. Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%.

BI mengambil keputusan tersebut di tengah tekanan eksternal terhadap rupiah yang masih tinggi. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut rupiah per 22 September berada di level Rp17.855/US$, atau melemah terbatas 0,78% dibandingkan akhir Agustus 2026.

Ketidakpastian global masih menjadi salah satu tantangan bagi rupiah. Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Di saat yang sama, sinyal kenaikan suku bunga lanjutan dari sejumlah negara maju, termasuk AS, turut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati.

Meski demikian, BI masih melihat ruang bagi rupiah untuk bergerak stabil ke depan.

"Ke depan BI perkirakan rupiah akan bergerak stabil didukung oleh komitmen BI serta imbal hasil menarik, inflasi terkendali dan prospek ekonomi yang tetap baik," ungkap Gubernur BI Destry Damayanti.

BI juga menegaskan akan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Putuskan Tahan Suku Bunga Acuan 5,75% di RDG September 2026