IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,32% ke Level 6.297
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada pembukaan perdagangan naik 20,91 poin atau 0,33% ke level 6.297,95. Beberapa menit setelah pasar buka IHSG menguat lebih tinggi hingga 0,61%. Indeks diketahui bergerak pada rentang terendah 6.315 dan tertinggi 6.297 pada awal perdagangan pagi ini.
Sebanyak 222 saham menguat, 89 saham melemah, dan 323 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 94,34 miliar, dengan volume perdagangan 175,62 juta saham yang berpindah tangan 22.137 kali.
Pasar keuangan Indonesia pada Rabu (23/9/2026) akan mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan perkembangan perang di Timur Tengah.
Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (23/9/2026), setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari. Pengumuman ini menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
RDG ini digelar di tengah ketidakpastian global dan lonjakan inflasi yang membuat era bunga tinggi kembali. Setidaknya ada sembilan bank sentral yang sudah mengerek suku bunga, termasuk The Fed dan bank sentral Jepang (BoJ).
Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI Rate tetap di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Suku bunga deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap, masing-masing sebesar 4,75% dan 6,5%.
Jika BI mempertahankan bunga, keputusan itu akan menjadi yang ketiga berturut-turut setelah BI Rate ditahan pada Juli dan Agustus. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.
Inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%-3,5%. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus sebesar 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli.
Di sisi lain, rupiah ditutup melemah di posisi Rp17.850/US$ pada Selasa (22/9/2026), sementara bank sentral AS atau The Federal Reserve telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps pada pekan lalu.
Dalam RDG Agustus, Destry yang saat itu masih menjabat sebagai Pejabat sementara Gubernur BI mengatakan keputusan menahan bunga sejalan dengan upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
BI juga mempertimbangkan sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026 dan 2027 serta pertumbuhan ekonomi.
Selain melalui suku bunga, BI sebelumnya menyatakan akan memperluas kebijakan insentif untuk mendorong aliran modal asing dan menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan makroprudensial longgar juga tetap diarahkan untuk mendukung kredit dan pembiayaan ke sektor riil.
Sementara itu, harga minyak jatuh lima hari beruntun. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh ke bawah US$ 100 untuk pertama kalinya sejak 8 September 2029. Pada Selasa (22/9/2026), harga minyak brent jatuh 1,09% ke US$ 99,25 per barel sedangkan WTI ambles ke US$ 94,5 per barel atau turun 1,3%.
Dalam lima hari terakhir, harga minyak sudah jatuh 8,7% sedangkan WTI ambles 10,6%. Melemahnya harga minyak belum mampu meredam keganasan dolar. Indeks dolar malah menguat ke 100,601 pada Selasa, dari 100,429 pada Senin.
Imbal hasil US Treasury juga menanjak ke 4,967% dari 4,963%. Penguatan imbal hasil US Treasury dan indeks dolar ini menjadi kabar buruk bagi rupiah. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu outflow dan menekan rupiah.
(fsd/fsd)