Rupiah Menguat Jelang BI Rate, Dolar AS Turun ke Rp17.835

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Rabu, 23/09/2026 09:04 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026). Mata uang Garuda berbalik ke zona hijau menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,08% atau 15 poin ke posisi Rp17.835/US$.

Penguatan tersebut membalikkan pergerakan sehari sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (22/9/2026), rupiah ditutup melemah 0,14% di level Rp17.850/US$.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 100,612. Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan DXY sebesar 0,17% pada perdagangan Selasa.

Pergerakan pasar keuangan domestik, termasuk rupiah, hari ini akan diwarnai penantian terhadap keputusan suku bunga BI.

BI dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, setelah menggelar pertemuan selama dua hari. Pengumuman tersebut menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.

RDG kali ini berlangsung di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya tekanan inflasi. Sedikitnya sembilan bank sentral telah menaikkan suku bunga, termasuk The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).

Hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga menunjukkan delapan responden memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Tiga responden lainnya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.

Suku bunga deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap, masing-masing di level 4,75% dan 6,5%.

Jika BI kembali mempertahankan suku bunga, keputusan tersebut akan menjadi yang ketiga secara beruntun setelah BI Rate ditahan pada RDG Juli dan Agustus. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.

Adapun dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS di pasar global masih bertahan di sekitar level terkuatnya dalam dua bulan. Mata uang Negeri Paman Sam mendapat dukungan dari peluang kenaikan suku bunga lanjutan setelah sejumlah pejabat The Fed membuka ruang pengetatan apabila inflasi tidak mereda.

Harga minyak yang mulai turun turut menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent berada di US$99,22 per barel seiring munculnya harapan bahwa pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat membuka jalan menuju penyelesaian perang di Timur Tengah.

Meski harga minyak telah turun dari level tertingginya, ketidakpastian mengenai berakhirnya konflik masih membuat pelaku pasar berhati-hati. Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap diminati dan membatasi ruang penguatan rupiah.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bunga The Fed Diramal Naik 25 Bps Bulan Ini, BI Rate Ikut Naik?