Internasional

Crypto Winter Tamat? Bitcoin Meledak 34%, Tembus US$ 86.000

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 22/09/2026 11:00 WIB
Foto: Ilustrasi Bitcoin. (IREUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Bitcoin kembali melonjak dan menembus level US$86.000. Ini merupakan tertinggi sejak akhir Januari 2026.

Kenaikan ini memunculkan kembali perdebatan di kalangan investor. Apakah periode "musim dingin kripto alias crypto winter" akhirnya telah berakhir?

Mengutip CNBC International, Bitcoin sempat menyentuh US$86.349,90 pada Senin (21/9/2026), usai kenaikan 29 Januari. Bitcoin kemudian diperdagangkan di sekitar US$85.863,40, atau naik sekitar 5,8%, berdasarkan data CoinMetrics.


Kenaikan tersebut memperpanjang reli Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Dalam sepekan, Bitcoin telah menguat lebih dari 8%, sementara dalam tiga bulan terakhir kenaikannya mencapai sekitar 34%.

Meski demikian, Bitcoin masih berada cukup jauh dari rekor tertingginya di atas US$126.000. Rekor itu dicapai pada Oktober 2025.

Crypto Winter Mulai Berakhir?

Sementara itu, Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menilai periode tekanan berkepanjangan di pasar kripto kemungkinan telah berakhir. Ia bahkan memperkirakan pasar dapat memasuki periode kenaikan yang panjang.

"Saya pikir ini sudah berakhir, sekarang adalah crypto spring," kata Hougan kepada CNBC International Senin.

"Saya pikir ini sebenarnya akan menjadi pasar bullish terkuat dan terlama dalam sejarah kripto," ujarnya.

Menurut Hougan, penurunan harga Bitcoin sebelumnya tidak sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental industri kripto. Ia menunjuk pada meningkatnya jumlah transaksi di berbagai jaringan blockchain serta semakin besarnya keterlibatan perusahaan keuangan besar, termasuk BlackRock.

Dengan demikian, menurutnya, terjadi kondisi yang tidak biasa, di mana harga aset kripto mengalami penurunan secara siklus, sementara fundamental industrinya justru terus berkembang.

Kini, Hougan menilai harga Bitcoin berpotensi kembali mengejar perkembangan fundamental tersebut. "Saya tidak berpikir jika saya kembali tahun depan, kita masih akan berada di bawah level tertinggi sepanjang masa itu," katanya.

Target US$90.000 Mulai Dibidik

Kenaikan Bitcoin juga membuat sejumlah analis kembali memasang target lebih tinggi. Analis BTIG dalam catatannya pada Minggu mengatakan selama harga Bitcoin mampu bertahan di atas US$75.000, investor bullish dapat membidik kenaikan menuju US$82.000 dan kemudian US$90.000.

Kenaikan Bitcoin turut mengangkat sejumlah saham perusahaan yang berkaitan dengan industri kripto di bursa AS. Saham Strategy dan Coinbase juga bergerak menguat pada perdagangan Senin.

Regulasi AS Jadi Sorotan

Menariknya, reli Bitcoin terjadi di tengah perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat (AS) yang justru menghadapi kemunduran. Senat AS pada pekan lalu gagal meloloskan Clarity Act, rancangan undang-undang yang dirancang untuk menciptakan kerangka regulasi aset kripto serta membagi kewenangan pengawasan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).

Meski demikian, Hougan menilai kegagalan Clarity Act tidak serta-merta menjadi sentimen negatif bagi kripto. Menurutnya, SEC dan CFTC saat ini dipimpin oleh lembaga yang lebih ramah terhadap industri kripto dibandingkan periode sebelumnya.

Ironisnya, kata dia, kegagalan Clarity Act justru bisa membuat aturan yang lebih pro-kripto tetap berjalan melalui kebijakan regulator yang ada.

Uang Mulai Beralih dari AI ke Kripto

Selain faktor fundamental dan regulasi, Hougan melihat adanya kemungkinan pergeseran aliran dana investor dari saham kecerdasan buatan (AI) menuju aset kripto.

Menurutnya, ledakan saham AI sebelumnya telah menyedot perhatian investor yang berorientasi pada momentum. Kini, ketika reli saham AI mulai mengalami perlambatan, sebagian dana berpotensi kembali mengalir ke pasar kripto.

"Ledakan AI telah menyedot seluruh oksigen dari ruangan. Setiap investor yang berorientasi pada momentum fokus ke sana. Sekarang setelah itu mulai mereda, Anda melihat uang kembali berputar ke kripto," kata Hougan.

Meski Bitcoin telah mencatat pemulihan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, aset kripto terbesar di dunia tersebut masih harus menempuh jarak cukup jauh untuk kembali ke rekor tertingginya.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: BEI Siap Turunkan Batas Terendah Harga Saham Jadi Rp1