Ini Pandangan Bos-Bos Perusahaan Besar Soal Ancaman AI

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 17/09/2026 19:20 WIB
Foto: Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagian besar pemimpin perusahaan di Amerika Serikat (AS) tidak sependapat dengan Presiden Donald Trump yang menyebut ancaman kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap umat manusia sebagai hoaks.

Mengutip The Wall Street Journal (WSJ), hal itu terungkap dalam pertemuan tertutup puluhan eksekutif papan atas AS yang digelar Yale School of Management di Washington pekan ini. Dalam jajak pendapat singkat terhadap peserta, 93% responden menilai Trump keliru ketika menyebut potensi bahaya katastrofik AI sebagai hoaks, pernyataan yang ia lontarkan di awal pekan.


Profesor manajemen Yale sekaligus penyelenggara forum, Jeffrey Sonnenfeld, mengaku terkejut dengan hasil tersebut. Menurutnya, para eksekutif, baik di dalam ruangan maupun dalam diskusi lanjutan, menyampaikan keinginan agar pembahasan soal cara mengantisipasi dampak buruk AI diperbanyak.

"Sentimennya adalah: (ancaman) ini nyata," ujar Sonnenfeld, dikutip dari WSJ.

Forum tersebut menjadi ajang para pemimpin bisnis bertukar pandangan menjelang jamuan makan malam kenegaraan di Gedung Putih bersama Presiden China Xi Jinping pada pekan depan. Persaingan global dalam pengembangan AI tercanggih diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam pertemuan itu.

Dalam jajak pendapat yang sama, 88% eksekutif menilai Trump perlu mengangkat isu kerja sama dengan China dalam menyusun pedoman keamanan AI. Namun, mereka tidak terlalu optimistis. Sekitar tiga perempat responden memperkirakan Trump tidak akan mendorong pembentukan batasan bersama tersebut.

Selama ini, Trump menolak desakan pengetatan regulasi di tingkat federal. Ia berargumen aturan semacam itu akan merugikan industri secara finansial dan justru memberi keunggulan bagi China.

Di sisi lain, para petinggi perusahaan AI terbesar, termasuk Anthropic dan OpenAI, pada akhir pekan lalu menyatakan industri perlu memperlambat pengembangan AI tingkat lanjut demi memastikan keamanannya.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar WSJ.

Banyak yang Enggan Bersuara Terbuka

Peserta forum sebagian besar berasal dari industri dan wilayah di luar Silicon Valley. Di antaranya CEO produsen perkakas Snap-on, Motorola Solutions, serta produsen kaca Corning. Hadir pula eksekutif dari kubu Partai Republik maupun Demokrat, serta sejumlah tokoh pemerintahan seperti mantan Wakil Presiden Mike Pence dan mantan Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

Menurut laporan WSJ, banyak eksekutif enggan berbicara secara terbuka karena khawatir berseberangan dengan pemerintahan Trump. Jajak pendapat anonim menjadi cara bagi mereka untuk menyampaikan kekhawatiran secara kolektif.

Salah satu yang bersedia bersuara adalah CEO perusahaan penyedia tenaga kerja Kelly, Chris Layden. Ia menilai potensi bahaya AI dan risiko kalah bersaing dengan China sama-sama harus ditangani.

Layden juga mendorong pemerintah dan dunia usaha lebih memperhatikan dampak teknologi tersebut terhadap lapangan kerja dan pekerja AS. Menurutnya, AS sudah lama membutuhkan strategi kesiapan tenaga kerja menghadapi AI. Strategi itu juga perlu membangun kepercayaan pekerja terhadap teknologi yang berpotensi membuat mereka lebih produktif dan efisien.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Intersystems Asia Ready 2026: Membangun "Backbone" Digital di Era AI