Ekuitas GMF Kini Positif, Laba Semester I-2026 Tembus Rp193 Miliar

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 17/09/2026 15:42 WIB
Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten perawatan pesawat anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$10,81 juta sepanjang semester I-2026. Angka ini naik 23,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$8,76 juta.

Dengan kurs tengah Bank Indonesia per 30 Juni 2026 sebesar Rp17.856/US$ yang digunakan dalam laporan keuangan perseroan, laba tersebut setara dengan sekitar Rp193,09 miliar.


Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang telah diaudit Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan (PwC), kenaikan laba ditopang lonjakan pendapatan sebesar 51,0% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$270,29 juta atau sekitar Rp4,83 triliun, dari sebelumnya US$178,96 juta.

Capaian enam bulan pertama ini sudah setara 55% dari total pendapatan GMFI sepanjang 2025 yang sebesar US$491,88 juta.

Segmen reparasi dan overhaul menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan US$220,45 juta, melonjak 66,0% yoy dari US$132,84 juta. Segmen perawatan (line maintenance) naik 10,3% menjadi US$38,21 juta, sementara operasi lainnya relatif stagnan di US$11,63 juta.

Dari sisi pelanggan, grup Garuda masih mendominasi. Pendapatan dari induk usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) naik 39,2% menjadi US$108,26 juta atau 40% dari total pendapatan. Sementara itu, pendapatan dari Citilink melonjak 86,5% menjadi US$73,70 juta, dengan porsi 27% dari total pendapatan, naik dari 22% pada semester I-2025.

Perseroan mencatat porsi pendapatan dari pelanggan di luar grup Garuda (Non-Garuda Group/NGA) mencapai 32% hingga Juni 2026.

Seiring melonjaknya pekerjaan overhaul, beban material GMFI membengkak 129,9% yoy menjadi US$116,65 juta dari US$50,75 juta. Kenaikan terbesar berasal dari suku cadang rotable dan repairable yang melesat menjadi US$79,92 juta dari US$21,98 juta.

Beban pegawai naik 11,6% menjadi US$64,41 juta, beban subkontrak naik 26,9% menjadi US$41,03 juta, sedangkan beban penyusutan justru turun 27,7% menjadi US$6,97 juta. Alhasil, laba sebelum pos keuangan dan lain-lain tercatat US$27,84 juta, naik 80,9% yoy.

Namun, laba tertahan oleh rugi selisih kurs yang membengkak menjadi US$8,79 juta dari US$605.835 pada semester I-2025, seiring melemahnya rupiah dari Rp16.782/US$ pada akhir 2025 menjadi Rp17.856/US$ per akhir Juni 2026. Tahun lalu, perseroan juga masih menikmati pemulihan akrual denda kontrak dan akrual pajak masing-masing sekitar US$2,2 juta yang tidak berulang tahun ini.

Akibatnya, pos beban lain-lain bersih berbalik menjadi US$8,68 juta dari sebelumnya penghasilan US$3,95 juta. Di sisi lain, beban keuangan turun 13,6% menjadi US$8,27 juta.

Laba sebelum pajak tercatat US$11,83 juta, naik 19,3% yoy. Setelah dikurangi beban pajak US$1,02 juta, laba periode berjalan mencapai US$10,81 juta.

Ekuitas Berbalik Positif, Kuasi Reorganisasi Disetujui

Dari sisi neraca, total aset GMFI per 30 Juni 2026 tercatat US$826,50 juta, naik tipis dari US$812,98 juta pada akhir 2025. Total liabilitas turun menjadi US$681,88 juta dari US$698,41 juta.

Ekuitas perseroan kini tercatat positif sebesar US$144,62 juta atau sekitar Rp2,58 triliun, naik dari US$114,57 juta pada akhir 2025. Posisi ini berbalik jauh dari 30 Juni 2025, ketika GMFI masih mencatat defisiensi modal sekitar US$249 juta.

Perbaikan struktur permodalan tersebut tidak lepas dari aksi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II. Pada Januari 2026, perseroan menerima setoran dari pemegang saham publik atas 4,81 miliar saham seri B senilai Rp120,31 miliar atau setara US$7,17 juta.

Meski demikian, GMFI masih menanggung akumulasi kerugian yang belum dicadangkan sebesar US$512,24 juta. Untuk membersihkan saldo tersebut, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 Juli 2026 telah menyetujui rencana kuasi reorganisasi beserta pengurangan modal melalui penurunan nilai nominal saham.

Aset lancar perseroan sebesar US$331,69 juta melampaui liabilitas lancar US$305,81 juta dengan selisih US$25,9 juta. Manajemen menyatakan tidak terdapat ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan atas kelangsungan usaha grup.

Adapun pinjaman jangka panjang (termasuk bagian jangka pendek) tercatat sekitar US$362,86 juta, turun dari US$372,78 juta pada akhir 2025. Liabilitas kontrak juga naik menjadi US$171,13 juta dari US$132,36 juta.

Kendati pendapatan melonjak, arus kas bersih dari aktivitas operasi justru turun 43,4% yoy menjadi US$6,96 juta dari US$12,29 juta. Hal ini dipicu pembayaran kepada pemasok yang naik 65,4% menjadi US$165,11 juta, lebih cepat dibandingkan penerimaan kas dari pelanggan yang naik 41,9% menjadi US$246,03 juta.

Piutang usaha dari pihak berelasi pun naik menjadi US$87,43 juta dari US$64,02 juta di akhir 2025. Per akhir Juni 2026, kas dan setara kas GMFI tercatat US$42,37 juta.

Untuk menjaga likuiditas, manajemen menjalankan program percepatan konversi kas melalui optimalisasi persediaan, percepatan penagihan piutang, serta negosiasi perpanjangan termin pembayaran dengan vendor utama.

Dari sisi operasional, GMFI kembali memperoleh sertifikasi base maintenance dari otoritas keselamatan penerbangan Eropa (EASA) pada Juni 2026. Perseroan juga tengah mengembangkan kapabilitas untuk sejumlah tipe pesawat seperti C130J, A350, B737 MAX, B787, dan A320neo, serta melanjutkan pengembangan Aerospace Park Kertajati.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bukan RI, Investor China Amankan Aset ke Malaysia & Singapura