Bursa Asia Bergerak Variatif, Investor Menanti Keputusan The Fed

mkh, CNBC Indonesia
Rabu, 16/09/2026 08:45 WIB
Foto: Bursa Jepang (Nikkei). (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Rabu (16/9/2026), seiring investor mencermati lonjakan imbal hasil obligasi global dan harga minyak menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Stock Indexes, sejumlah bursa Asia terpantau menguat. Indeks NZX 50 Selandia Baru naik 0,89%, disusul indeks KOSPI Korea Selatan yang menguat 0,45% dan Taiwan Weighted Index yang naik 0,44%.

Indeks Straits Times Singapura juga menguat 0,2%, sementara S&P/ASX 200 Australia naik 0,08%.


Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,08%, sedangkan Nikkei 225 Jepang turun 0,21%. Indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 1,11%.

Sementara itu, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang versi MSCI bergerak fluktuatif setelah melemah selama empat sesi berturut-turut. Indeks tersebut terakhir tercatat naik 0,2%, dengan penguatan saham Korea Selatan menjadi salah satu penopang.

Mengutip Reuters, pergerakan bursa Asia yang cenderung terbatas terjadi setelah kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak global mulai mereda menjelang keputusan The Fed.

Pada perdagangan sebelumnya di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,5%, memperpanjang pelemahan selama dua hari berturut-turut. Pasar saham AS tertekan setelah yield Treasury tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Di perdagangan Asia, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis 0,8 basis poin menjadi 4,99%, setelah sempat menembus 5% pada Selasa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Investor kini menantikan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dengan probabilitas mencapai 92,4%, berdasarkan CME FedWatch.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$108,08 per barel setelah melonjak 2,9% pada perdagangan sebelumnya. Meski demikian, harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah.

Indeks dolar AS juga bertahan di dekat level tertinggi dalam dua pekan, yakni 99,656.

Pelaku pasar turut mencermati konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Bagi pasar saham Indonesia, pergerakan bursa Asia, yield Treasury, harga minyak, dan arah kebijakan The Fed menjadi sejumlah sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG hari ini.


(mkh/mkh)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sektor Pilihan Saat Harga Minyak Naik - Suku Bunga Diramal Naik