Rupiah Melemah 4 Hari Beruntun, Dolar AS Naik ke Rp17.680

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 15:07 WIB
Foto: Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di tempat penukaran uang PT Ayu Masagung, Jakarta, Senin (18/11/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan tren pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan hari ini Selasa (15/9/2026), rupiah terdepresiasi 0,26% dan berakhir di posisi Rp17.685/US$. Sekaligus menjadi pelemahan dalam empat hari beruntun. 

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah konsisten bergerak di zona merah setelah dibuka melemah 0,06% di level Rp17.650/US$. Tekanan pun terus bertambah hingga mata uang Garuda sempat menyentuh posisi terlemah hari ini di Rp17.703/US$. 


Adapun, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami penguatan 0,22% ke posisi 99,606. 

Pergerakan rupiah hari ini diwarnai dengan perkembangan baik dari luar maupun dalam negeri, khususnya setelah Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026). 

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz menilai pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan dapat menjadi modal penting untuk menjaga kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Irman, rekam jejak Suahasil dapat meminimalkan risiko selama masa transisi. Latar belakangnya sebagai teknokrat juga dinilai mampu menjaga kesinambungan kebijakan dan kelembagaan dalam pengelolaan fiskal.

"Secara keseluruhan, kami memperkirakan kebijakan fiskal akan tetap mendukung pertumbuhan sembari mempertahankan aturan fiskal 3% sebagai jangkar kredibilitas utama," ujar Irman kepada CNBC Indonesia, Senin (14/9/2026).

Namun, kabar dari dalam negeri belum mampu menahan tekanan eksternal. Penguatan dolar AS di pasar global masih mempersempit ruang bagi rupiah untuk terapresiasi. 

Dolar tengah mendapat angin segar dari meningkatnya permintaan terhadap aset aman seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan energi dunia. 

Harga minyak mentah global acuan Brent konsisten berada di atas US$100 per barel. Kondisi yang dapat meningkatkan t

Kenaikan harga energi juga membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pekan ini.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang sekitar 93% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan ini. Probabilitas tersebut meningkat tajam dari sekitar 60% pada pekan lalu.

Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik dan kembali mengangkat greenback. Kondisi tersebut turut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Nasib IHSG & Rupiah Saat Investor Pantau Inflasi-Rebalancing MSC