IHSG Sesi I Melemah 0,76%, Ini Penyebabnya

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Selasa, 15/09/2026 12:34 WIB
Foto: Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sejak awal perdagangan hari ini, Selasa (15/9/2026).

IHSG tercatat melemah 49,77 poin atau 0,76% ke level 6.484,92. Hingga sesi I perdagangan, sebanyak 333 saham naik, 317 saham melemah, dan 313 tak bergerak.

Pada awal perdagangan, indeks sempat bergerak hingga level tertinggi 6.549,60 dan juga sempat menyentuh level terendah 6.461,01, yang menunjukkan tekanan jual cukup kuat di pasar saham domestik.


Berdasarkan data Stockbit, volume transaksi tercatat mencapai 167,54 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp7,16 triliun dan frekuensi mencapai sekitar 1,06 juta kali transaksi.

Dari perdagangan reguler, tercatat volume transaksi sebesar 158,62 juta lot dengan nilai mencapai Rp6,20 triliun. Sementara itu, frekuensi transaksi di pasar reguler telah mencapai sekitar 1,06 juta kali.

Adapun pada pasar negosiasi, volume transaksi tercatat sebesar 8,93 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp956,21 miliar dan frekuensi sebanyak 196 kali. Sementara transaksi di pasar tunai relatif kecil, dengan volume 350 lot, nilai transaksi sekitar Rp9,01 juta, dan frekuensi sebanyak 5 kali.

Berdasarkan data Refinitiv, saham-saham pemberat pelemahan IHSG berasal dari sektor keuangan yang turun 1,49%, disusul oleh sektor energi yang -1,40%, dan sektor utilities -0,75%.

Adapun saham-saham pemberat IHSG antara lain, PT.Cipta Selera Murni Tbk PT (CSMI), PT. Himalaya Energi Perkasa Tbk. (HADE), PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk. (BTEK), PT. Fortune Indonesia Tbk. (FORU), dan PT. Multi Garam Utama Tbk. (FOLK).

Sementara, saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Danasupra Erapacific Tbk. (DEFI), PT. Communication Cable Systems Indonesia Tbk. (CCSI), PT.Transkon Jaya Tbk. (TRJA), PT. Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA), dan PT. Semacom Integrated Tbk. (SEMA).

Sebagai informasi, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini dibayangi sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri.

Dari domestik, perhatian investor tertuju pada pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara. Sementara dari global, ketegangan perang di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta rilis data ekonomi China menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Suahasil. Usai dilantik pada Senin (14/9/2026), Suahasil menegaskan komitmennya menjaga kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk memastikan defisit tetap di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kepastian arah kebijakan fiskal menjadi penting bagi investor di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Dari eksternal, eskalasi konflik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026), setelah jalur pipa minyak East-West Saudi terganggu akibat serangan sebelumnya.

Di sisi lain, Selat Hormuz masih ditutup dan upaya diplomasi untuk membukanya kembali menghadapi hambatan.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia menguat. Pada perdagangan Senin, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel, sedangkan Brent menguat 1,18% ke US$106,93 per barel.

Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi dan meningkatkan biaya energi, sehingga menjadi perhatian bagi pasar saham, khususnya di negara-negara pengimpor minyak.

Tekanan eksternal juga datang dari prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Bank Indonesia (BI) mengingatkan bahwa era suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer menjadi tantangan bagi negara berkembang. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi mendorong aliran modal menuju aset negara maju, sehingga menekan rupiah dan pasar keuangan domestik.

Investor juga akan mencermati rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada 15-16 September waktu AS. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan peluang kenaikan menuju kisaran 3,75%-4,00% mencapai 92,4% berdasarkan CME FedWatch.


(rob/rob)
Saksikan video di bawah ini:

Arab Saudi Tutup Jalur Pipa, Harga Minyak Bertahan di Atas USD 100