Bos BI Beberkan Alasan Rupiah Tertekan Lawan Dolar Minggu Lalu

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 12:26 WIB
Foto: Gubernur Bank INdonesia, Destry Damayanti. (YouTube/DPR RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan setelah mata uang Garuda nyaris menyentuh level Rp 17.400 per dolar AS.

Sayangnya, penguatan rupiah ini berbalik melemah pada pekan lalu. Pada Jumat (11/9/2026), ketika rupiah terdepresiasi 0,31% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.585/US$.


"Sebenarnya beberapa hari lalu, kita sudah di Rp 17.500-an dan bahkan hampir menyentuh Rp 17.400-an. Namun demikian, gejolak global memburuk, karena perang Iran-AS makin meningkat, kita (rupiah) agak tertekan dalam 2 hari terakhir. Tetapi alhamdullilah masih di level Rp 17.600-an," ujar Destry, dalam rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).

Adapun, pada tahun ini dan tahun depan, BI masih mematik proyeksi rupiah di kisaran Rp 17.300 - Rp 17.800 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah berhasil dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,14% dan membuka perdagangan Senin (14/9/2026) di posisi Rp17.560/US$.

Penguatan tersebut membalikkan pelemahan pada Jumat (11/9/2026), ketika rupiah terdepresiasi 0,31% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.585/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke posisi 99,176.

Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya perkembangan perang di Timur Tengah dan harga minyak yang turut menggerakkan indeks dolar AS.

Kekhawatiran pasar kembali meningkat setelah terjadi serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk pada Minggu. Konflik yang semakin meluas meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan dan jalur pengiriman energi dunia.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Era Destry Damayanti, Seberapa Independen & Pro-Growth BI?