5 Tanda Anda Masuk Golongan Kelas Bawah, Bukan Cuma Gaji Kecil

Redaksi, CNBC Indonesia
Minggu, 13/09/2026 08:30 WIB
Foto: Infografis/ Miris! Si Miskin Terhimpit Utang, Si Kaya Pesta Pora/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Penentuan status sosial ekonomi seseorang kerap kali hanya diukur dari besaran pendapatan dan pengeluaran bulanan semata. Badan Pusat Statistik (BPS) misalnya, mengklasifikasikan penduduk miskin berdasarkan rata-rata pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan, di mana standar untuk wilayah DKI Jakarta menyentuh angka Rp4.238.886 per bulan.

Namun, di luar indikator angka pengeluaran tersebut, ada berbagai tanda kasat mata yang menunjukkan posisi seseorang dalam struktur kelas sosial, khususnya kelas menengah-bawah hingga kelas bawah.

Mengutip panduan finansial dari GoBankingRates, berikut adalah 5 indikator utama yang mencerminkan status ekonomi golongan kelas bawah:


1. Kondisi dan Akses Tempat Tinggal

Tempat tinggal merupakan salah satu pos pengeluaran terbesar bagi setiap rumah tangga. Jika seseorang secara konsisten kesulitan untuk mengakses hunian yang nyaman, aman, serta berada di lingkungan yang layak, kondisi ini menjadi indikator kuat ketidakstabilan finansial yang mengarah pada golongan ekonomi bawah.

2. Jenis Pekerjaan dan Jenjang Karier

Pekerjaan memegang peran vital dalam menentukan kelas sosial. Profesi yang dikategorikan sebagai blue collar (pekerja kerah biru) atau pekerjaan berkeahlian rendah, seperti pelayan restoran, sopir truk, pegawai ritel, buruh manufaktur, hingga petugas kebersihan, umumnya berada di spektrum ekonomi bawah karena minimnya upah dan tunjangan.

"Anda dianggap berada di kelas menengah jika bekerja dalam posisi manajerial atau pekerjaan spesialis," ujar Nathan Brunner, CEO Salarship.

Sementara itu, profesi seperti guru, perawat, akuntan, hingga pekerja IT posisinya bisa berada di antara kelas pekerja atau kelas menengah, sangat bergantung pada tingkat senioritas dan sertifikasi yang dikantongi.

3. Ketiadaan Tabungan Darurat dan Investasi

Menabung dan berinvestasi adalah pilar utama penyangga keuangan sekaligus instrumen untuk membangun kekayaan jangka panjang. Sayangnya, kemewahan finansial ini sering kali susah dijangkau oleh masyarakat kelas bawah. Apabila seseorang sama sekali tidak memiliki cadangan tabungan darurat apalagi perencanaan dana pensiun, dapat dipastikan kondisi keuangannya berada di zona rentan.

4. Keterbatasan Gaya Hidup dan "Kesenangan Kecil"

Kemampuan untuk menikmati liburan rutin setiap tahun, makan di restoran, atau sekadar membeli barang baru tanpa harus cemas memikirkan dapur adalah cerminan dari keamanan finansial dasar.

Jika hal-hal sederhana tersebut terasa sangat berat dan selalu terkendala oleh keterbatasan anggaran yang ketat, kondisi ini menandakan posisi ekonomi yang terbatas. Sebaliknya, kebebasan finansial untuk menikmati pengeluaran tersier sesekali merupakan hak istimewa yang umumnya dimiliki oleh kelas menengah ke atas.

5. Akses terhadap Pendidikan Tinggi

Tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai seseorang merupakan salah satu prediktor paling akurat dalam menaikkan tangga ekonomi. Hambatan struktural dan mahalnya biaya kuliah sering kali menjadi tembok besar yang menghalangi masyarakat kelas bawah untuk mengakses pendidikan tinggi.

Ketika mengenyam bangku kuliah terasa mustahil akibat keterjangkauan biaya, hal ini tidak hanya menutup jalan menuju karier bergaji tinggi, tetapi juga mengukuhkan siklus kemiskinan antargenerasi.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bunga The Fed Diramal Naik 25 Bps Bulan Ini, BI Rate Ikut Naik?