MARKET DATA

Cegah Defisit Belanja, Negara Ini Pilih Jual Saham BUMN

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
12 September 2026 10:15
FILE PHOTO: A broker reacts while trading at his computer terminal at a stock brokerage firm in Mumbai, India, August 24, 2015. India's benchmark BSE index fell more than 5 percent on Monday to their lowest in a year, as a rout in Chinese equities sp
Foto: REUTERS/Danish Siddiqui

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah India mulai mencari sumber pendanaan alternatif untuk menopang perekonomian di tengah defisit fiskal yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melepas sebagian kepemilikan saham perusahaan milik negara kepada publik.

Melansir detikFinance, langkah tersebut diambil ketika India masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif paling cepat dibandingkan negara-negara ekonomi besar lainnya. Namun, laju tersebut menghadapi tekanan dari tingginya inflasi serta persoalan fiskal yang dapat menghambat aktivitas belanja pemerintah.

Dengan defisit yang semakin melebar, pemerintah India berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa semakin membebani kondisi fiskal. Penjualan saham perusahaan milik negara kepada publik pun menjadi salah satu opsi yang ditempuh untuk memperoleh dana sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah India telah melepas saham di 10 perusahaan sejak awal tahun, meskipun kondisi pasar saat ini sedang lesu. Sebut saja ada Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India.

Terbaru, pemerintah India telah menyelesaikan penjual 6,5% saham di perusahaan asuransi jiwa terkemuka, Life Insurance Corporation of India. Berkat itu mereka berhasil meraup dana sekitar US$3,3 miliar atau Rp59,06 triliun.

Penjualan saham tersebut dihargai dengan diskon 10% untuk menarik pembeli di pasar saham India. Karenanya tak mengherankan jika penawaran pembelian melebihi target.

Menurut penyedia intelijen pasar India, Prime Database, aksi penjualan saham BUMN yang dilakukan India berhasil mengumpulkan lebih dari US$6,5 miliar atau Rp116,33 triliun secara keseluruhan. Ini merupakan salah satu pengumpulan dana tertinggi dalam lebih dari 10 tahun.

Sementara menurut para ahli, pemerintah saat ini berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahunan penggalangan dana sebesar 800 miliar rupee atau US$8,4 miliar (Rp150,33 triliun) melalui berbagai penjualan saham BUMN.

Dana tersebut dinilai akan sangat penting bagi India yang saat ini sedang menghadapi tantangan ekonomi makro yang semakin berat. India telah memenuhi lebih dari 65% dari target divestasi tahunannya.

"Memanfaatkan hasil divestasi adalah strategi yang sangat bagus," kata kepala riset ekonomi India di Standard Chartered Bank, Anubhuti Sahay, dikutip dari detikFinance, Sabtu (12/9/2026).

Menurutnya, selama bertahun-tahun India tidak pernah memenuhi target divestasi saham perusahaan-perusahaan milik negara karena pemerintah selalu berada dalam situasi fiskal yang 'nyaman'. Namun kini risiko penurunan pendapatan dan risiko peningkatan pengeluaran karena beban subsidi yang lebih tinggi.

"Saat ini penjualan saham tersebut seperti memanfaatkan 'aset berharga keluarga' pada saat dibutuhkan," jelasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]
Next Article S&P Tetapkan Rating RI BBB, Bos BI: Bukti Kepercayaan Global Terjaga


Most Popular
Features