Danantara Ungkap Laba Telkom Bisa Naik 30% Gara-Gara Ini
Jakarta, CNBC Indonesia — Badan Pengaturan (BP) BUMN dan Danantara Indonesia mendorong percepatan transformasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melalui streamlining anak usaha untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih sederhana, efisien, dan fokus.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria meyakini langkah tersebut berpotensi meningkatkan laba Telkom sedikitnya 30%. "Saya yakin kalau (streamlining) ini selesai, laba Telkom paling tidak naik 30%," ujar Dony dikutip dari akun instagram resmi @bumn_id, Jumat, (11/9/2026).
Dalam proses transformasi tersebut, Telkom juga telah memperhitungkan berbagai implikasi, termasuk cut loss dan write off dari proses streamlining anak usaha. Saat ditanya mengenai nilai cut loss dan write off, jajaran Telkom menyebut total cut loss dengan segala implikasinya mencapai Rp17 triliun.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan streamlining juga akan menyasar sejumlah anak usaha di bawah segmen Business-to-Business Information and Communication Technology (B2B ICT).
"Di bawah B2B ICT juga sekarang yang nantinya juga akan kena streamline, ada PINS, ada Telkom SIGMA, ada Infomedia dan yang lain-lain," kata Dian.
Lebih jauh, transformasi Telkom diarahkan untuk memperkuat posisi perseroan sebagai strategic holding yang berfokus pada konektivitas dan infrastruktur digital. Dengan struktur yang lebih sederhana, perseroan diharapkan memiliki arus kas yang lebih sehat, biaya yang lebih efisien, serta mampu memberikan layanan yang semakin baik bagi masyarakat.
Streamlining anak usaha tersebut menjadi bagian dari agenda transformasi Telkom untuk menyederhanakan struktur dan meningkatkan efektivitas pengelolaan bisnis. Proses ini diharapkan membuat Telkom lebih fokus pada bisnis inti sekaligus memperkuat efisiensi operasional perseroan.
Sebagai informasi, Telkom menargetkan pengurangan jumlah anak perusahaan yang ditargetkan berkurang dari 68 menjadi 18 entitas.
Selain pemangkasan anak usaha, TLKM juga memperkuat alokasi modal, di mana pada periode pertama atau paruh pertama tahun 2026, lebih dari 94% belanja modal dialokasikan untuk bisnis inti B2C dan juga B2B infrastruktur.
(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]