MARKET DATA

Jelang Akhir Pekan Rupiah Ditutup Melemah, Dolar AS Naik ke Rp16.585

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
11 September 2026 15:04
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah diDolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025).(CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah bergerak dalam rentang cukup lebar sepanjang perdagangan. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,23% di posisi Rp17.570/US$, kemudian tertekan hingga menyentuh level terlemah hari ini di Rp17.620/US$.

Tekanan terhadap rupiah mulai berkurang menjelang akhir perdagangan. Rupiah menguat 35 poin dari posisi terlemahnya dan ditutup di level Rp17.585/US$ atau terdepresiasi 0,31% terhadap dolar AS.

Meski melemah pada perdagangan hari ini, rupiah masih membukukan penguatan sekitar 0,26% dalam sepekan dari posisi penutupan Jumat pekan lalu di Rp17.630/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,05% ke posisi 99,096.

Pelemahan rupiah hari ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS di pasar global. Greenback bertahan di sekitar level tertinggi seminggu ini di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Dolar sebelumnya mendapat tenaga setelah data menunjukkan indeks harga produsen AS meningkat 0,4% pada Agustus.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu pendorong meningkatnya tekanan harga di tingkat produsen.


Penguatan dolar juga ditopang oleh aliran dana menuju aset aman di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga minyak melanjutkan kenaikan selama enam hari berturut-turut. Harga minyak Brent pada perdagangan Asia naik 1,2% ke US$108,96 per barel setelah menembus level US$100 pada awal pekan ini.

Tingginya harga energi mendorong pelaku pasar memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 71,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan, meningkat dari 61,2% pada perdagangan sebelumnya.

Perubahan ekspektasi tersebut turut mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin ke level 4,965% atau semakin mendekati 5%.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Perhatian pasar kini tertuju pada rilis inflasi konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat waktu setempat. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi utama terakhir sebelum The Fed menggelar pertemuan FOMC pada 15-16 September mendatang.

Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat semakin memperbesar peluang kenaikan suku bunga The Fed, mengangkat dolar AS, dan menambah tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan ekspektasi pengetatan moneter serta memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Dibuka Perkasa, Dolar AS Turun ke Rp17.800 Pagi Ini


Most Popular
Features