Kospi Korsel & Nikkei Jepang Anjlok, Bursa Asia Dibuka Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dengan saham Korea Selatan dan Jepang memimpin penurunan di kawasan tersebut. Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, anjlok 2,7%.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,6%, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1%. Penurunan bursa Asia terjadi setelah saham-saham Amerika Serikat (AS) tertekan oleh lonjakan harga minyak pada perdagangan Kamis.
Melansir CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei di tengah berlanjutnya konflik antara AS dan Iran yang telah memasuki bulan ketujuh.
Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil surat utang AS atau Treasury. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menembus 4,95% dan mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.
Pelaku pasar juga mencermati data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS untuk Agustus yang dirilis pada Kamis. PPI meningkat 0,4% secara bulanan dan naik 5,4% secara tahunan, yang menunjukkan tekanan inflasi di tingkat grosir masih tinggi.
Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada rilis data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk Agustus yang akan diumumkan pada Jumat. Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan CPI meningkat 0,4% secara bulanan dan mencapai 3,4% secara tahunan.
Data CPI menjadi salah satu indikator penting yang akan memengaruhi keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga pada pertemuan 16 September mendatang. Berdasarkan perdagangan Fed funds futures, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 71%, menurut CME Group melalui alat FedWatch.
Chief Economist AS di Natixis CIB Americas Christopher Hodge mengatakan hasil CPI akan menjadi faktor kunci dalam menentukan apakah The Fed mempertahankan suku bunga atau menaikkannya pada pekan depan. Menurutnya, CPI yang sesuai dengan konsensus akan menjadi bulan keempat berturut-turut dengan data inflasi yang menggembirakan dan mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September.
"Jika inflasi lebih tinggi dari konsensus, kami memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan," ujar Hodge.
(fsd/fsd)