Breaking News! Tiba-Tiba IHSG Turun 1%, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Pada pukul 14.25 WIB, IHSG anjlok 1% atau 66,50 poin ke level 6.611,70.
IHSG yang sempat menguat dan menembus level 6.700 pada awal perdagangan berbalik arah. Indeks bahkan menyentuh level terendah 6.608,21, sedangkan level tertingginya berada di 6.712,50.
Tekanan IHSG semakin dalam memasuki sesi II seiring pelemahan mayoritas saham berkapitalisasi besar. Tercatat BBCA turun 1,15%, BBRI -2,92%, BYAN -3,99%, dan AMMN -1,83%.
Secara keseluruhan, sebanyak 495 saham melemah dan hanya 172 saham menguat. Sisanya atau 296 saham stagnan.
Selain itu, salah satu penyebab utama tekanan pasar datang dari sentimen eksternal. IHSG melemah di tengah lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$101 per barel. Kenaikan harga minyak dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi global.
Selain itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun masih berada di level tinggi, sekitar 4,86%, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak November 2023.
Tekanan juga datang dari aksi jual investor asing. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas hingga sesi I, asing mencatatkan foreign buy Rp2,71 triliun, tetapi foreign sell mencapai Rp4,02 triliun. Alhasil, net foreign sell mencapai Rp1,31 triliun.
Saham perbankan jumbo menjadi sasaran utama aksi jual asing. BBCA mencatat net foreign sell Rp276,20 miliar, diikuti BBRI sebesar Rp116,19 miliar dan BMRI Rp17,14 miliar. Saham AMMN juga mencatat net sell asing Rp36,17 miliar.
Secara sektoral, tekanan paling dalam terjadi pada sektor kesehatan yang turun 1,51%. Sektor keuangan juga melemah 0,65%, disusul industri 0,27% dan teknologi 0,01%.
(mkh/mkh)