Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun di Bawah Rp17.500

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Kamis, 10/09/2026 09:02 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9/2026), rupiah terapresiasi tipis 0,03% ke posisi Rp17.495/US$.

Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan tajam pada perdagangan Rabu (9/9/2026), ketika mata uang Garuda ditutup melesat 0,71% ke level Rp17.500/US$. Posisi pembukaan hari ini sekaligus mempertahankan rupiah di sekitar level terkuatnya sejak 15 Mei 2026 atau hampir 17 pekan terakhir.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 98,784.

Pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh sentimen yang datang dari pasar global maupun dalam negeri.

Dari eksternal, pelemahan dolar AS sejatinya dapat menahan tekanan terhadap rupiah. DXY masih bergerak di sekitar level terendahnya dalam hampir dua pekan, terutama karena dolar terus melemah terhadap yen Jepang.

Dolar AS berada di dekat level terendah dalam tujuh bulan terhadap yen. Penguatan mata uang Jepang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan perubahan perkiraan kebijakan menjelang pertemuan The Federal Reserve (The Fed) serta BOJ pada pekan depan.

Pasar memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September. Ekspektasi tersebut telah mendorong yen menguat sekitar 4% sepanjang September dan turut menahan pergerakan DXY.

Namun, rupiah menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak dunia setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.

Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Pasukan AS juga menyerang sejumlah kapal tanker minyak Iran, sementara Teheran menghantam pangkalan militer AS di Yordania.

Ketegangan tersebut membuat harga minyak Brent melonjak 3,36% dan ditutup di US$101,21 per barel, posisi tertinggi sejak Mei 2026.

Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor. Kondisi tersebut berpotensi menambah permintaan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Harga minyak yang tinggi juga meningkatkan risiko inflasi menjelang rilis data inflasi AS pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan terakhir sebelum The Fed menentukan suku bunga pada pertemuan 15-16 September.

Adapun, dari domestik, pasar menantikan data penjualan eceran Indonesia periode Juli 2026 yang akan diumumkan Bank Indonesia (BI) pada hari ini.

Pada Juni, kontraksi penjualan eceran telah membaik dibandingkan penurunan 3,9% pada Mei. Penjualan pakaian membaik, sedangkan perlengkapan rumah tangga dan suku cadang kendaraan mencatatkan pertumbuhan.

Namun, penjualan makanan, minuman, tembakau, perangkat komunikasi, barang rekreasi, dan bahan bakar masih mengalami penurunan.

Realisasi penjualan eceran yang membaik dapat memperkuat sinyal pemulihan konsumsi setelah Indeks Keyakinan Konsumen naik menjadi 118,5 pada Agustus.

Sebaliknya, kontraksi yang lebih dalam dapat menunjukkan bahwa peningkatan optimisme konsumen belum sepenuhnya mendorong aktivitas belanja. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap daya beli dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Melonjak Hingga IHSG & Rupiah Kompak Melemah