Rupiah Berbalik Ditutup Menguat, Dolar AS Turun Tipis ke Rp17.625
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,03% dan mengakhiri perdagangan hari ini, Selasa (8/9/2026) di posisi Rp17.625/US$.
Pergerakan tersebut berbanding terbalik dengan pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah melemah 0,03% ke level Rp17.635/US$. Mata uang Garuda berhasil menguat 10 poin dari posisi pembukaan.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.590-Rp17.635/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,26% ke posisi 98,915.
Berbaliknya rupiah ke zona hijau terjadi ketika dolar AS melemah di pasar global. Penurunan DXY memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Kondisi ini sejalan dengan proyeksi dalam laporan Macro & Fixed Income Daily Morning Notes Mega Capital Sekuritas (MCS), yang memperkirakan mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.600-Rp17.700/US$.
"Rupiah juga berpotensi mengalami hal serupa pada rentang IDR 17,600-17,700 per USD akibat kombinasi pelemahan indeks dolar dan sisa-sisa apresiasi JPY akibat sisa-sisa sentimen BOJ Rate hike dalam waktu dekat," tulis laporan MCS yang dikutip Selasa (8/9/2026).
Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan kembali menaikkan suku bunga. Kenaikan yen turut menekan DXY karena mata uang Jepang menjadi salah satu komponen utama indeks dolar AS.
Di pasar obligasi domestik, pergerakan juga cenderung stabil. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun turun tipis 0,5 basis poin menjadi 7,11%.
Meski demikian, pelaku pasar masih menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pada pekan ini. Data tersebut menjadi rangkaian indikator ekonomi penting terakhir sebelum bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) menggelar rapat FOMC pada 15-16 September mendatang.
Setelah laporan tenaga kerja AS pada Jumat lalu lebih kuat dibandingkan perkiraan, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed dan kembali mengangkat dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi ekspektasi pengetatan moneter AS, menekan dolar, dan membuka ruang penguatan lebih lanjut bagi mata uang Garuda.
Pasar juga masih mencermati ketegangan geopolitik di kawasan Teluk setelah Iran mengancam akan membalas setiap serangan baru AS terhadap asetnya. Iran turut memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas AS, berada dalam posisi rentan.
Ketegangan tersebut membuat harga minyak bertahan di sekitar level tertinggi dalam enam pekan, dengan harga minyak Brent berada di atas US$97 per barel. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan mempengaruhi arah kebijakan The Fed kedepannya.
(evw/evw)