Danantara Ungkap Kriteria Sektor Layak Investasi, Apa Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan bahwa terdapat sejumlah kriteria sektor yang diyakini layak untuk mendapatkan investasi. Dalam hal ini, investasi diarahkan kepada sektor yang dinilai mempunyai prospek pertumbuhan yang cerah di masa mendatang.
"Yang pertama, tentunya sektor itu harus sektor yang memang bertumbuh, menghasilkan profitabilitas yang baik, dan juga ke depannya diharapkan untuk bisa tumbuh dan juga berkembang. Itu yang pertama," ujar Managing Director, Global Relations & Communications BPI Danantara, Pahala Nugraha Mansury kepada CNBC Indonesia, ditulis Senin (7/9/2026).
Atas pertimbangan tersebut, Danantara memilih investasi pada sektor yang sehat dan juga mampu menghasilkan investasi yang sifatnya komersial. Di samping itu, investasi yang ditempatkan Danantara perlu menghasilkan rate of return (tingkat pengembalian) yang bersifat komersial juga.
Bukan hanya dari sisi keuntungan, Pahala menilai bahwa sektor strategis juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam praktiknya, Danantara melakukan investasi bersama dengan JBS Group selaku produsen protein terkemuka di dunia.
"Tetapi uangnya itu nantikan akan dilakukan untuk bisa mengembangkan kapasitas produksi di Indonesia. Jadi ini adalah merupakan satu hal yang memang kita lihat sangat baik sekali untuk kita bisa lakukan karena kita bisa mendatangkan kapabilitas dari luar untuk bisa mengembangkan kapasitas produksi protein berbasiskan hewan tadi di Indonesia, mendapatkan teknologi juga untuk itu, dan juga bisa melakukan akselerasi dan juga bisa mendapatkan pengembangan daripada investasi dengan tingkat komersial rate of return yang bagus," jelasnya.
Di samping itu, Pahala menuturkan, terdapat beberapa hal yang mendorong Danantara untuk mengembangkan industri pangan, khususnya untuk protein.
"Satu adalah bahwa memang sektor pangan ini adalah sektor yang pasti dengan bertumbuhnya perekonomian apalagi penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 280 juta, penduduk di Asia Tenggara yang hampir mencapai 800 juta dengan tingkat konsumsi protein di mana Indonesia pada saat ini masih memiliki tingkat konsumsi protein kurang lebih 40% di bawah rata-rata konsumsi protein di negara-negara yang sudah berkembang" jelasnya.
Pahala menilai, dengan adanya target pertumbuhan ekonomi 8%, pertumbuhan penduduk dan juga peningkatan daripada konsumsi protein per penduduknya sendiri, maka akan meningkatkan permintaan terhadap bahan makanan. Termasuk, untuk bahan makanan yang berbasiskan protein.
"Jadi ini yang tentunya menjadi salah satu yang kita lihat tren ke depannya apalagi kalau kita lihat bahwa dengan adanya kondisi geopolitik yang ada ini kan juga akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana supply chain terhadap bahan pangan ini menjadi satu hal yang betul-betul menjadi hal yang sangat strategis," ucap dia.
"Nah ini yang menjadi salah satu dasar kenapa kita melakukan investasi tersebut bersama-sama juga dalam hal ini melihat siapa sebetulnya pada saat ini adalah merupakan salah satu pemain produksi protein terbesar di dunia," sambungnya.
Atas dasar itu, Danantara pun menjalin kerja sama dengan JBS Group yang dinilai mempunyai skala teknologi dan kapabilitas mumpuni di industri protein. Dalam hal ini, Danantara menyasar beragam jenis sumber protein hewani seperti sapi, kan, ayam dan lainnya.
"Nah ternyata JBS sebagai perusahaan yang berasal dari Brazil tetapi listing di Amerika saat ini mereka mengoperasikan aset-aset dengan bangsa pasar yang cukup dominan di Australia mencapai antara 45% sampai dengan 50% adalah merupakan salah satu mitra yang sangat berpotensi," jelasnya.
Lebih jauh, Danantara juga menganggap kemampuan yang dimiliki oleh JBS Group bisa mendukung pengembangan dan memperkuat rantai pasok pangan regional, termasuk protein di Indonesia.
"Jadi ini yang memang betul-betul menjadi dasar buat kita melihat bahwa ini ada salah satu pemain utama dan mereka juga sangat tertarik buat mereka bagaimana nantinya mereka bisa mengoptimalkan dan juga melakukan pertumbuhan kedepannya bukan hanya di Australia tapi juga di Indonesia sebagai salah satu market terbesar yang sebetulnya pada saat ini juga adalah berdampingan dengan Australia dan ini adalah merupakan salah satu supply chain dunia pangan yang paling tidak rentan terhadap adanya kondisi geopolitik," jelasnya.
Terkait pendanaan itu sendiri, Danantara dan JBS Group masing-masing akan menggelontorkan dana sebesar US$ 2,5 miliar. Alhasil, total dana yang terhimpun mencapai US$ 5 miliar dan akan difokuskan untuk pengembangan bisnis protein di Indonesia pada dua tahun pertama.
(dpu/dpu)