Rupiah Ditutup Hijau Sore Ini, Dolar AS Terkoreksi ke Rp17.630

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Jumat, 04/09/2026 15:04 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Rabu (8/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah terapresiasi 0,11% ke posisi Rp17.630/US$. Posisi tersebut membuat rupiah kini berada di posisi terkuatnya dalam 15 pekan terakhir.

Sepanjang perdagangan, rupiah sudah mengawali perdagangan di zona hijau dengan menguat 0,23% ke level Rp17.610/US$. Namun, penguatannya mesti terpangkas 20 poin hingga penutupan perdagangan.


Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,026.

Rupiah tetap memperoleh dukungan dari pelemahan tajam dolar AS pada perdagangan sebelumnya. DXY ditutup anjlok 0,69% pada Kamis kemarin, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Tekanan terhadap dolar salah satunya datang dari penguatan tajam yen Jepang. Yen melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS hingga mencapai 155,47 yen/US$, mendekati posisi terkuatnya sejak awal Mei.

Penguatan yen dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September telah mencapai 75%.

Ekspektasi tersebut menguat setelah anggota Dewan Kebijakan BOJ Hajime Takata mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga secara lebih cepat untuk menghadapi tekanan inflasi. Kenaikan yen turut membebani DXY karena mata uang Jepang menjadi salah satu komponen utama indeks dolar AS.

Tekanan terhadap dolar juga membesar setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang suku bunga dipertahankan dalam pertemuan bulan ini.

Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.

Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Peluang kenaikan suku bunga turun menjadi 48%, dari 59% sebelum Waller menyampaikan pandangannya.

Berkurangnya peluang kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dolar menjadi relatif kurang menarik. Kondisi tersebut masih memberikan tenaga bagi rupiah meski DXY berbalik menguat pada perdagangan hari ini.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat malam waktu Indonesia. Ekonom memperkirakan perekonomian AS menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, setelah kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.

Data yang lebih lemah dari perkiraan dapat semakin mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed dan menekan dolar. Sebaliknya, laporan tenaga kerja yang kuat berpotensi kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter AS.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Nasib IHSG & Rupiah Saat Investor Pantau Inflasi-Rebalancing MSC