MARKET DATA

Bursa Asia Kompak Menguat, Investor Cermati Data Tenaga Kerja AS

Mentari Puspadini,  CNBC Indonesia
04 September 2026 08:41
Seorang pria berjalan melewati papan harga saham di sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang, 7 April 2025. REUTERS/Androniki Christodoulou
Foto: REUTERS/Androniki Christodoulou

Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Jumat (4/9/2026), mengikuti penguatan Wall Street pada sesi sebelumnya.

Melansir CNBC, Indeks Kospi Korea Selatan melonjak 1,32%, Nikkei 225 Jepang bertambah 0,25%, sementara S&P/ASX 200 Australia naik 0,14%.

Penguatan pasar saham Amerika Serikat (AS) mendapat dorongan setelah imbal hasil (yield) Treasury AS mengalami penurunan. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller yang mengatakan dirinya akan cenderung mendukung untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran target saat ini sebesar 3,5%-3,75% dalam pertemuan bank sentral AS pada 15-16 September mendatang.

Pernyataan Waller menjadi perhatian pelaku pasar karena memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed dalam pertemuan September. Investor kini mengalihkan perhatian pada katalis pasar berikutnya, yakni laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang akan dirilis pada Jumat pagi waktu setempat.

Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan jumlah pekerja nonpertanian atau nonfarm payrolls AS bertambah sebanyak 53.000 pada Agustus 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan berada di level 4,1%, dibandingkan kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.

Data ketenagakerjaan tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai langkah kebijakan The Fed selanjutnya. Pelemahan pasar tenaga kerja dapat memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS memiliki ruang untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

Ekonom Senior Interactive Brokers José Torres mengatakan data inflasi yang akan dirilis pekan depan juga akan menjadi faktor penting bagi arah pasar. Namun, menurut dia, penurunan yang berkelanjutan dalam indikator ketenagakerjaan seharusnya cukup bagi The Fed untuk mulai mempertimbangkan sisi ketenagakerjaan dalam mandat kebijakannya, alih-alih terus berfokus pada upaya menekan tekanan harga.

Torres secara khusus mencermati data inflasi konsumen atau consumer price index (CPI) dan inflasi produsen atau producer price index (PPI) yang akan dirilis pekan depan. Kedua data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk mengukur keseimbangan antara risiko inflasi dan pelemahan pasar tenaga kerja dalam menentukan arah kebijakan The Fed.

(mkh/mkh) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bursa Asia Pesta Pagi Ini, Ikut Jejak Wall Street


Most Popular
Features