Likuiditas Perbankan Masih Ketat, Pertumbuhan Kredit Belum Merata
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom menyoroti kondisi likuiditas perbankan yang masih menjadi salah satu tantangan utama di tengah pertumbuhan kredit yang terus melaju. Meski penyaluran kredit industri perbankan tumbuh dua digit, pertumbuhannya dinilai belum merata karena masih ditopang kuat oleh segmen korporasi.
Head of Macroeconomics and Financial Market Research Bank Mandiri Diah Ayu Yustina mengatakan kinerja industri perbankan secara umum masih menunjukkan ketahanan yang kuat.
Berdasarkan data terakhir Juli 2026, pertumbuhan kredit perbankan tercatat mencapai 13,58% secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,7% pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masih lebih moderat. Data hingga Juni 2026 menunjukkan DPK tumbuh 10,2% secara tahunan.
Kondisi tersebut turut tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) yang berada di kisaran 88%, menandakan kondisi likuiditas perbankan yang masih relatif ketat.
"Likuiditas juga masih menjadi isu utama tentunya, karena kita tahu beberapa bulan terakhir dengan rasio LDR yang meningkat," ujar Diah dalam Mandiri Macro and Market Brief Q3 2026 secara virtual, Kamis (3/9/2026).
Dari sisi penghimpunan dana, pertumbuhan simpanan juga belum terjadi secara merata. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan simpanan yang cukup tinggi terutama berasal dari kelompok simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar.
Sementara itu, pertumbuhan simpanan pada kelompok nominal lainnya relatif datar atau cenderung mengalami perlambatan.
Ketimpangan juga terlihat pada pertumbuhan kredit berdasarkan segmen. Diah mengatakan pertumbuhan kredit masih didominasi oleh segmen korporasi yang tumbuh signifikan hingga sekitar 20%.
Sebaliknya, pertumbuhan kredit pada segmen konsumer dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih relatif melambat.
"Kalau kita lihat pertumbuhan kredit, segmentasinya masih sama, dominasinya masih oleh pertumbuhan kredit korporasi yang tumbuhnya cukup signifikan, cukup tinggi di 20%. Sementara pertumbuhan kredit di segmen consumer dan juga segmen UMKM itu relatif melambat," kata Diah.
Dari sisi kualitas aset, kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tertinggi masih tercatat pada segmen UMKM dan ritel.
Meski demikian, Bank Mandiri melihat terdapat tanda-tanda stabilisasi kualitas aset dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut diharapkan sejalan dengan mulai membaiknya permintaan domestik sehingga pertumbuhan kredit ke depan dapat menjadi lebih merata.
"Kalau kita lihat di pergerakannya dalam beberapa bulan terakhir ini mulai ada stabilisasi. Jadi kita harapkan kondisi ekonomi terkait dengan permintaan domestik sudah mulai ada tanda-tanda perbaikan sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih merata," ujarnya.
Dian mengakui kondisi likuiditas perbankan sepanjang semester I-2026 menghadapi sejumlah tantangan, termasuk faktor eksternal.
Pada Mei dan Juni, misalnya, kinerja perdagangan Indonesia mencatat defisit. Kondisi tersebut kemudian diperberat oleh terjadinya aliran modal keluar atau capital outflow.
Selain faktor eksternal, implementasi kebijakan dari sisi moneter dan fiskal juga turut memberikan dampak terhadap kondisi likuiditas di dalam negeri.
Meski demikian, Bank Mandiri memproyeksikan kondisi likuiditas akan berangsur membaik ke depan.
Perbaikan tersebut diharapkan datang secara bertahap, terutama dengan adanya dukungan kebijakan pemerintah baik dari sisi fiskal maupun moneter.
"Kita memproyeksikan situasi akan mulai gradual, akan ada perbaikan terutama dari sisi likuiditas perbankan," kata Dian.
Menurutnya, dukungan kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan kredit menjadi lebih baik serta lebih merata di berbagai segmen.
(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]