Rupiah Sentuh Level Tertinggi 15 Minggu, Dolar AS Turun ke Rp17.650

Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
Kamis, 03/09/2026 15:05 WIB
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melesat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda bahkan menyentuh posisi terkuat dalam sekitar 15 pekan.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (3/9/2026), rupiah berhasil terapresiasi cukup tajam hingga 0,56% ke posisi Rp17.650/US$.


Posisi tersebut menjadi penutupan terkuat rupiah sejak 21 Mei 2026. Rupiah sejak awal perdagangan pagi tadi sudah berhasil dibuka menguat 0,25% ke level Rp17.705/US$. Penguatannya kemudian bertambah 50 poin hingga penutupan perdagangan.

Kondisi ini juga merubah arah rupiah setelah di penutupan sebelumnya, Rabu (2/9/2026) rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.750/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tajam 0,34% ke posisi 99,259.

Pelemahan DXY semakin dalam dibandingkan posisi pukul 09.00 WIB yang turun 0,08% ke level 99,502.

Rupiah mendapatkan angin segar dari pelemahan dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback membesar setelah sejumlah mata uang utama dunia menguat pada perdagangan hari ini. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, penurunan dolar masih berpotensi terbatas karena pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September ini.

Pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 61%. Ekspektasi tersebut menguat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan bernada ketat mengenai upaya mengendalikan inflasi.

Perhatian pasar juga tertuju pada laporan tenaga kerja AS yang akan dirilis pada Jumat esok. Ekonom memperkirakan perekonomian AS menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, setelah kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,1%.

Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan mendorong dolar AS menguat. Sebaliknya, data yang lemah berpeluang memperpanjang tekanan terhadap greenback dan memberikan ruang lanjutan bagi rupiah.

Penguatan rupiah turut berlangsung sehari setelah Destry Damayanti resmi diambil sumpahnya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031.

Destry menegaskan BI akan terus mencermati era higher for longer, ketika inflasi, suku bunga, dan imbal hasil obligasi di negara-negara maju bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.

"Ini kan sesuai juga dengan pengamatan kami, juga dalam asesmen kami terakhir. Kita memang menghadapi situasi higher for longer. Jadi bond yield yang tinggi, kemudian inflasi juga tinggi di negara maju, kemudian juga suku bunga masih terus tinggi," kata Destry di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Destry, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena itu, perkembangan ekonomi global akan menjadi salah satu pertimbangan BI dalam merumuskan kebijakan domestik dan menjaga stabilitas rupiah.

"Nah ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik. Jadi faktor-faktor global itu akan sangat juga mempengaruhi banyak latar belakang kami nanti dalam membuat kebijakan domestik," ujarnya.


(evw/evw)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Nasib IHSG & Rupiah Saat Investor Pantau Inflasi-Rebalancing MSC