Rupiah Menguat 0,25% Pagi Ini, Dolar AS Turun ke Rp17.705
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda mendapat ruang untuk bangkit ketika indeks dolar AS terkoreksi.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2026), rupiah mampu terapresiasi 0,25% ke posisi Rp17.705/US$.
Penguatan tersebut membalikkan pelemahan pada perdagangan Rabu (2/9/2026), ketika rupiah ditutup terdepresiasi 0,31% ke level Rp17.765/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,08% ke posisi 99,502.
Dinamika dolar AS di pasar global diperkirakan masih mewarnai pergerakan rupiah hari ini. Meski terkoreksi pada perdagangan pagi, greenback sebelumnya sempat menyentuh posisi tertinggi dalam dua pekan.
Dolar mendapat dukungan setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Eskalasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak lonjakan biaya energi terhadap inflasi dan perekonomian global.
Dolar AS cenderung diuntungkan ketika harga minyak meningkat karena ekonomi Negeri Paman Sam dinilai tidak terlalu rentan terhadap guncangan energi dibandingkan sejumlah negara maju lainnya. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengalihkan dana menuju dolar sebagai aset aman.
Kekuatan dolar juga ditopang perbedaan arah kebijakan moneter negara-negara maju. Bank Sentral Eropa diperkirakan segera mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga, sedangkan The Federal Reserve (The Fed) masih menghadapi kemungkinan untuk melanjutkan pengetatan kebijakan.
Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 68%, meningkat dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan membatasi ruang penguatan rupiah.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga sempat naik hingga 4,8182%, posisi tertinggi sejak November 2023. Tingginya yield membuat instrumen keuangan AS semakin menarik bagi investor global.
Namun, aksi jual obligasi yang dipicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi fiskal AS juga dapat membatasi penguatan dolar. Kenaikan utang serta tekanan harga yang bertahan tinggi mulai memunculkan keraguan terhadap daya tarik aset AS dalam jangka panjang.
Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031 Destry Damayanti mengakui perekonomian global masih berada dalam fase higher for longer. Suku bunga, inflasi, dan imbal hasil obligasi di negara maju diperkirakan bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
"Ini kan sesuai juga dengan pengamatan kami, juga dalam asesmen kami terakhir. Kita memang menghadapi situasi higher for longer. Jadi bond yield yang tinggi, kemudian inflasi juga tinggi di negara maju, kemudian juga suku bunga masih terus tinggi," kata Destry setelah diambil sumpah jabatannya sebagai Gubernur BI di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Menurut Destry, kondisi global tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Perkembangan suku bunga dan imbal hasil obligasi global akan menjadi salah satu pertimbangan BI dalam merumuskan kebijakan domestik.
"Nah ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik. Jadi faktor-faktor global itu akan sangat juga mempengaruhi banyak latar belakang kami nanti dalam membuat kebijakan domestik," ujarnya.
Tingginya ketidakpastian global membuat stabilitas tetap menjadi fokus utama BI, terutama dalam menjaga nilai tukar rupiah, inflasi, dan sistem keuangan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.
(evw/evw)