IHSG Naik 0,60% ke 6.564,51 di Sesi I, Saham Bank Jadi Penopang
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan sesi I, Selasa (1/9/2026). IHSG ditutup naik 39,03 poin atau 0,60% ke level 6.564,51.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak di rentang 6.535,80-6.586,16 sepanjang sesi I. Indeks dibuka di level 6.538,12, setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup di 6.525,48.
Penguatan IHSG ditopang mayoritas sektor saham. Sektor keuangan menjadi salah satu motor utama dengan kenaikan 1,36%, disusul sektor energi yang naik 1,16% dan konsumer non-primer 1,03%.
Sektor lainnya yang juga menguat yakni properti 0,93%, industri 0,69%, utilitas 0,57%, konsumer primer 0,31%, serta kesehatan 0,13%. Sementara itu, sektor teknologi menjadi pemberat utama dengan koreksi 2,36%, diikuti bahan baku yang turun 0,23%.
Dari jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penyumbang kenaikan IHSG terbesar berdasarkan kontribusi poin indeks, yakni 10,88 poin. Saham BBRI tercatat berada di level Rp3.320 atau naik 0,17%.
Selanjutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 7,05 poin dengan kenaikan 0,11% ke Rp6.550. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut memberikan kontribusi 6,08 poin, naik 0,09% ke Rp4.300.
Selain saham perbankan, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyumbang 4,69 poin dan PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 4,34 poin.
Di sisi lain, sejumlah saham menjadi penahan laju IHSG. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencatat kontribusi negatif terbesar sebesar 10,90 poin, disusul PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar 4,70 poin dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 2,94 poin.
Dengan penguatan tersebut, IHSG kembali berada di atas level 6.500 pada awal perdagangan September. Penguatan juga terjadi ketika sejumlah bursa Asia bergerak variatif hingga cenderung melemah pada sesi perdagangan pertama.
Adapun pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa (1/9/2026) berpotensi dibayangi oleh sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri. Investor akan mencermati rilis data ekonomi domestik, mulai dari inflasi Agustus, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, hingga neraca perdagangan Juli 2026.
Dari pasar global, eskalasi kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi perhatian utama. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Harga minyak kembali mendekati level US$90 per barel sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Dari pasar global, eskalasi kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi perhatian utama. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Harga minyak kembali mendekati level US$90 per barel sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
(mkh/mkh)